Arti dan Makna Lambang Paramadina

Arti dan Makna Paramadina

Muqaddimah

Universitas Paramadina merupakan bukti konkrit dari cita-cita para founding father Paramadina, butuh bertahun-tahun Cak Nur beserta rekan-rekan untuk mewujudkannya. Banyak sekali makna dan arti yang terkandung dalam Paramadina, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, terangkum dalam sebuah manifesto yang disebuat “Manifesto Paramadina”. Manifesto Paramadina dimaksudkan untuk menjabarkan arti dan makna dari Paramadina itu sendiri, yakni agar keterbukaan tumbuh menjadi budaya dalam pergaulan warga Negara dan kecenderungan dalam membentuk masa depan.

Arti dan Makna

Perkembangan Hidup Beragama dan daya baca pada masalah integrasi islam kedalam keindonesiaan mengukuhkan kesadaran akan tanggungjawab orang muslim, yang dilandasi wawasan asasi keberagamaan dalam menatap masa depan. Dan Ini merupakan makna yang terkandung dalam Paramadina itu sendiri.

Adapun Ide besar yang diusung sekaligus menjadi tonggak Paramadina adalah, Kedalaman Iman, Ketajaman Nalar, Kepekaan Nurani dan Kecakapan Berkarya. Adapun sekarang Paramadina lebih menitikberatkan pembahsan-pembahasannya pada ide sekularisme, pluralisme, dan Liberalisme.

Flash Back (Sebagai Konsep dan Tonggak Dasar)

Umat Islam Indonesia menjadi sebuah fenomena tersendiri bagi kehidupan umat Islam dibelahan negara lain, karena umat Islam Indonesia terbentuk dari sebauh keragaman dan heterogenitas suku dan budaya. Dengan keragaman budaya Indonesia tersebut Islam dipaksa dan diharuskan untuk tampil dan menjadi yang terdepan, konstuktif dan produktif, mengingat banyaknya penduduk umat Islam yang ada didunia. Umat islam di Indonesia menjadi sebuah model percontohan bagi umat Islam dinegara-negara lain, dikarenakan perbedaan dan keragaman yang tercipta, ini menjadi sebuah model spesies umat Islam baru. Bagi Indonesia sendiri umat Islam dituntut untuk mampu tampil dengan ajarannya yang membawa kesejahteraan bagi seluruh alam (rahmatan lilalamin).

Selama 14 abad lebih Islam mencapai kejayaannya, dengan kejayaan itu pula umat islam banyak menyumbangkan dedikasinya untuk peradaban umat manusia, dari segai intelektualitas, keilmuan, sains, kebudayaan dan disiplin ilmu-ilmu lainnya. Peradaban tersebut kemudian diambil alih oleh orang Eropa (Eropa Barat) sejak abad 17 Masehi, setelah meletusnya perang salib, dimana perpustakaan terbesar umat Islam yang berada di Kordova dibakar habis, sedangkan kitab/buku-buku penting yang menjadi dasar lahirnya ilmu pengetahuan diangkut dan diadopsi oleh orang Barat. Maka sejak saat itu lahirlah Renaissance sebagai babak baru pencerahan bagi orang Eropa.

Dengan kondisi demikian umat Islam tidak perlu khawatir, karena spirit perubahan yang kreatif dan konstuktif tetap masih melekat disetiap benak umat Islam. Dan mulai abad 19 Masehi umat Islam mulai menemukan kembali jati dirinya dengan pertanyaan “kenapa umat Islam mundur ? dan satu jawabannya, karena umat Islam telah meninggalkan al-Quran”. Meninggalkan disini bukan berarti dan diartikan secara harfiyah semata akan tetapi diartikan secara maknawi (spirit).

Prinsip dan spirit perubahan yang ada, tercermin dalam system teologi dan kepercayaan umat Islam itu sendiri. Ini diawali dengan I’tikad dan janji kita terhadap tuhan, yakni, dua kalimah Syahadat “Laa illa ha illallah Muhammad ar-Rasulullah”. Dengan spirit tersebut umat Islam mempunyai modal besar untuk menciptakan sebuah peradaban baru, dan itu menjadi landasan paramadina dalam mewujudkan cita-citanya. Prinsip keimanan (Tauhid) akan membawa manusia (Indonesia) kepada sebuah peradaban modern baru, kenapa? karena dengan prinsip Tuhid tersebut, maka tertanam dalam diri setiap muslim bahwa tidak ada yang lebih suci dan sakral kecuali Allah. Dengan pensucian selain Allah tersebut maka segala sesuatu yang ada dihadapan Manusia semuanya tidak suci, dalam arti bias dirubah dan ditinjau kembali.

Dengan prinsip itu pula melahirkan konsep, bahwa ketika yang suci itu Tuhan maka manusia berada dalam posisi kotor atau berada dibawah Tuhan itu sendiri. Ini mengartikan bahwa setiap manusia itu semua sama, tidak ada sesuatu yang membedakannya. Ketika prinsip itu telah tertanam maka segala jenis perbedaa (suku, etnis, budaya, agama, dan latar belakang lainnya) menjadi hilang dan ternegasikan. Maka yang timbul adalah sikap saling menghormati dan menghargai.

Kemanunggalan Islam dan Indonesia

Sikap dan rasa saling menghormati serta menghargai tercermin pula pada asas dan dasar idiologi Indonesia pula yakni Pancasila. Kesamarataan, persatuan dan kesatuan semua diramu para founding father Bangsa supaya bangsa ini menjadi bangsa yang besar, karma bangsa yang besar adalah bangsa yang memahami dan mengerti arti dari heterogenitas, perbedaan dan keragamaa, karma berangkat dari haltersebut persatuan dan kesatuan bangsa akan tercipta.

Ceita-cita Paramadina

Dengan modal kemerdekaan, persatuan dan kesatuan bangsa, maka diharapkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar, bangsa yang menghargai perbedaan dan keragaman. Dengan modal itu pula, kita sebagai generasi penerus bangsa harus bisa memahami dan menghayati apa yang dicita-citakan dan diharapkan oleh nenek moyang. Mengutip perkataan Bung Karno, ia mengatakan “zamen bundeling van alle kracheten van de natie” yang artinya adalah “Pengikatan bersama seluruh kekuatan bangsa”. Disambung dengan perkataan Almarhum Prof Dr. Nurcholish Madjdid, beliau mengatakan “Kekuatan itu akan terbentuk dan terwujud hanya dengan adanya peneguhan kembali ikatan batin atau komitment semua warga Negara kepada cita-cita nasional, disertai dengan pembaharuan tekad bersama untuk melaksanakannya”.

Berdasarkan itu pula, Maka Paramadina yang mempunyai spirit persatuan, egaliter, heterogenitas, dan cinta akan kasih sayang, berharap mewujudkan sebuah peradaban baru dibawah naungan Agama dan Negara, yakni persatuan dan kesatuan Nasional. Maka dari itu, Paramadina merupakan tempat persemaian Manusia Baru Indonesia yang berperadaban modern (civil society). Peradaban Baru Peradaban Indonesia, Manusia Baru Manusia Paramadina.

Penutup

Apa yang terkandung dalam “Manifesto Paramadina” diharapkan menjadikan dasar dan bahan acuan bagi kita dalam membentuk sebuah peradaban baru. Mudah-mudahan kita sebagi kader bangsa benar-benar menjadi manusia baru yang berperadaban modern serta mewujudkan cita-cita besar Paramadina.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: