Psikologi Agama

Manfaat Psikologi Agama

Psikologi Agama, secara personal jelas memberikan sedikit banyak manfaat dalam kehidupan, apalagi seara hubungan social, saya (sebagai manusia) harus banyak berinteraksi dengan berbagai kalangan, kalangan elitis birokrasi, pertemanan, keluarga dan hubungan social lainnya, apalagi ketika menyangkut dengan posisi (status) diri di lingkungan social (di paramadina sebagai Wakil Presiden Mahasiswa).

Manusia penuh dengan keterbatasan, baik diri sebagai kebertubuhan (yang dibatasi oleh indra), dan Akal, yang ternyata terbatas secara konseptual. Hal tersebut membuat saya menyadari bahwa manusia memang syarat dengan keterbatas, sehingga untuk mengantisipasi dan jalan keluar akhir dari segala problematika kehidupan yang ada, maka saya (manusia dengan berbagai predikat yang melekat) membutuhkan sebuah pegangan atau perlindungan yang menjadi jalan keluar atas segala keterbatasannya (Realitas tertinggi/ Tuhan).

Prilaku Menympang Menurut Psikologi Agama

Secara personal Konsep prilaku penyimpangan tidak lagi menjadi sebuah predikat (menyimpang), ketena hal tersebut dilihat dengan dan dari berbagai sudut pandang, misalnya seseorang tidak melaksanakan solat. Konsep dari pelaksanaan solat itu sendiri, ketika dilihat dari hukum “Syariah” bisa dikatakan penyimpangan akan tetapi ketika dilihat dari sudut pandang keilmuan lain, prilaku tersebut belum tentu dikatakan menyimpang.

Kalau dikaitkan dengan Psikologi agama secara personal saya memiliki penyimpangan, penyimpangan yang mungkin dipandang telah keruar dari jalur keislaman. Sebagai salah satu contoh : ketika prilaku ibadah (yang telah diwajibkan dalam al-Quran, baik sholat, Shaum ibadah dan haji ) tidak dipraktekan dalam rutinitas sehari-hari.

Menurut sudut pandang saya (personal) perilaku ibadah hanya disandarkan kepada bersar kecilnya pahala, atau ingin masuk surga dan takut terhadap neraka maka ibadah itu sendiri menurut saya akan turun derajatnya (secara konsep pemahaman keagamaan an sich), meskipun hal tersebut sedikit bertentangan dengan doktrin keagamaan yang saya dapatkan dari sejak Madrasah intidaiyah (SD) sampai tingkan Mu’allimien (SMA).

Menurut pandangan saya, ibadah tidak lagi dipahami sebagai ritus gerakan indra, pandangan ini bukan berarti bahwa ritus gerakan inda dipandang  tidak penting atau tidak ada gunanya, bahkan ketika kita gali setiap gerakan dalam ibadah itu sendiri mempunyai arti yang lebih luas, baik secara eksplisit maupun implicit. Ibadah dapat diartikan sesuai dengan pemahaman personal, karena sudah jelas, bahwa Tuhan akan memposisikan dirinya (mendeskipsikan dirinya) sesuai dengan deskripsi hambanya, dan disanalah letak ke Rahmanan kan kerahiman Tuhan serta keuniversalan islam (Rahmatan lil alamien). Inilah posisi dimana Aspek Agama sebagai posisi Spirit dengan berbagai ibadahnya menyentuh aspek personal dan social. Pluralisme inilah penengah dari segala bentuk perbedaan pemahaman, baik Pemahaman secara personal maupun secara kolosal (institusi keagamaan yang mempunyai umat masing-masing).

Argumen Para PSikolog Agama

“Orang-Orang Beragama Mengalami Sakit Jiwa”

Prilaku Ornag beragama Menyimpang = Orang Beragama Mengalami Penyaikit jiwa, Demilianlah tesis para Psikolog agama mengenai prilaku orang beragama yang didefinisikan sebagai penyait jiwa.

Pernyataan tersebut secara personal saya tidak dapat mengatakan dukungan secara sepihak (benar atau tidak). Ketika saya memandang dari sudut kajian Psikologi agama Pernyataan tersebut dapat dikatakan benar, melihat latar belakang para psikolog agama yang nota bene beraliran empirisisme atau memakai piasu anasisa empiris. Akan tetapi ketikan saya melihat dari sudut pandang orang beragama, itu bisa dikatakan salah, dengan latar belakang doktrin keagamaan (doktrin idiologis dan psikologis) yang terus ditatamkan sejak dini. Agama sebagai sebuah tuntunan hidup (acuan) telah tertanam dan itulah keimanan, dan yang namanya keimanan adalah sesuatu yang bersifat psikologis atas kesadaran bahwa manusia syarat dengan kekurangan dan kelemahan sehingga dia membutuhkan sesuatu yang “MAHA” sebagai pegangan dan penolong dan petunjuk hidup.

Menut saya pribadi, saya tidak mendukung keduanya (baik para psikolog ataupun para pegiat agama). Saya berpendapat bahwa aspek keagamaan adalah aspek spiritual, dimana ruang bawah dasadar dan ruang kesadaran bertemu, sehingga spiritual menjadi jalan tengah atas problematika pemahaman antar agama dan agama dengan non-agama.

Jadi secara singkat saya mengatakan spiritual bukanlah permasalahan antara agama dan non agama.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: