Aku Berfikir

Apakah kamu pernah merasakan kegelisahan ? ya, semua orang pasti pernah merasakan kegelisahan, kegelisahan tentang apapun, termasuk gelisah akan dirinya sendiri, kegelisahan akan eksistensi dan tentang diri. Diri, apakah itu diri, orang lebih menganal diri adalah aku, ya Aku, kegelisahan akan diri dan Aku. Sangat sederhana, kata tersebut sering meluncur ketika seseorang mengungkapkan tentang dirinya, tapi siapakah aku ? belum tentu semua orang belum mengetahuinya, termasuk saya. Terkadang saya suka takut ketika menyebutkan kata ”Aku”, kata tersebut terus mengiang dalam gendang telinga, Sampai sekarang kata itu sering melintas dan mengisi urat saraf dalam otak kesadaranku. ”Aku” ya, kata yang membuat malam terasa panjang, kata yang membuatku sering teridiam untuk memikirkannya, dan kata yang membuat aku tersentak menembus alam kesadaran.
Hampir saja kata ini membuat aku setengah gila sampai-sampai aku tak mau mendengar kata tersebut bahkan aku pun merasa takut kata ini meluncur dari mulutku sendiri. Gara-gara kata ini aku sering dianggap aneh oleh orang-orang disekitarku bahkan aku dianggap sedikit kurang waras karena terus menerus menanyakan kata ini. Siapakah Aku dan apakah Aku ?. Aku bertanya bukan karna aku benar-benar tidak mengetahui jawabannya anak tetapi aku menanyakan kata tersebut karena sampai saat ini belum ada jawaban yang mendalam dan mendasar sehingga membuat aku puas maka aku memutuskan untuk bertanya pada diri sendiri, tentunya dengant metode dan analisa yang aku punya meskipun sangat sederhana.
Pada malam hari ketika suasana mulai hening dan sunyi, aku mencoba beranjak dari tempat tidurku, satu hari dua hari dan begitu seterusnya sampai sampai akupun merasa aneh dengan kelakuanku itu, yang mencoba menjawab pertanyaan yang semestinya tidak ditanyakan, bahkan orang bodoh sekalipun tidak pernah menanyakannya. Tapi aku kembali berfikir dan berapologi, yang benar saja, ya iyalah orang bodoh tidak akan pernah menanyakan hal ini, karna mereka tidak tau, mungkin intrlektulitas mereka belum sampai pada pertanyaan tersebut, pertanyaan yang membutuhkan sebuah analisa yang sangat dan akut. Berdasar pada hal tersebut aku mencoba bertanya dan menjawabnya meskipun aku tau itu tidak akan membuatku puas, tapi apa salahnya kalu dicoba, toh tidak akan berdosa ketika aku berusaha untuk menjawabnya.
Aku yakin ini adalah fase dnimana semua orang pernah mengalaminya, ya fase keresahan jiwa, demna seseorang mulai resah dengan apa yang terjadi dengan dirinya baik itu mempertanyakan tentang keadaan dirinya atau potensi dan kekuranannya, dengan kata lain fase ini disebut fase pencarian jati diri. Dan aku baru sadar fase ini merupakan masa transisi kedewasaan berfikir, ketika aku salah dalam memilih jalan berfikir maku selamanya aku akan terjerumus dan tersesat, karna sebuah pandangan hidup akan menginternalisasi dan mengkristal dalam diri dan mungkin ini yang disebut watak.
Dengan perangkat yang sudah aku siapkan, yakni segelas kopi panas yang aga sedikit pahit dan beberapa batang rokok, malam ini aku putuskan untuk bergadang. Aku beranjak dari tempat tidur dan kemudian bergerak menuju kursi yang berada di luar rumah. Malam itu terasa begitu dingin dan senyap yang terdengar hanya suara kodok, jangkrik dan lolongan anjing yang saling bersautan. Sambil bersandar pada kursi sejenak aku coba untuk menutup mataku dan mulai berfikir, tapi tanpa sadar anganku melayang entah kemana, fikiran itu mengajak aku melayang dan berkelana di alam antah berantah, kadang memikirkan keluarga, saudara-saudaraku, teman-temanku dan pikiran-pikiran lain yang sempat hinggap dan tertangkap oleh alam kesadaranku. Setelah anganku melayang menembus negri antah berantah itu maka ia kembali dan mulai dihinggapi oleh sebuah kata yang sampai sekarang belum terjawab, siapakah aku dan apa aku ?
Aku coba berusaha menenangkan fikiranku dengan menghisap kembali rokok dan menegak kembali kopi pahitku, setelah itu aku teringat dengan T Shirt yang aku ambil dari kakaku. Akupun beranjak dan mengambilnya kemudian duduk kembali pada tempat semula sambil memegang kaos tersebut dan membaca tulisannya secara perlahan, ” I Like Who I am”, ya aku suka siapa diriku, mungkin kurang lebih demikianlah artinya, tapi sesaat aku terhenyak kembali dengan pertanyaan yang secara mendadak muncul dalam fikiranku ”bagaimana aku bisa suka siapa diriku ketika aku tidak tahu siapa aku sebenarnya”. Aku kembali berfikir mencoba mendefinisikan kata tersebut.
Sebenarnya aku kurang suka dengan pendefinisian karna menurutku itu sebuah pengekangan cara berfikir, mengkotak-kotakan dan terlalu memilahmilah dan membeda-bedakan. Tapi akhirnya aku menyadari bahwa hanya dengan definisilah kita bisa tahu mana batasan dan arahan yang akan dicapai dan dituju, setidaknya itu kegunaan yang aku tahu.
Aku, aku adalah anak dari kedua orang tuaku, aku adalah anak ke delapan dari sepuluh bersaudara, aku adalah adik dari ketujuh kakak-ku dan kakak dari kedua adik-ku. Aku adalah seorang manusia yang memiliki kepala, badan, tangan, kaki, mata, telinga, mulut, hidung dan angota tubuh yang lainnya, aku yang yang membutuhkan makan, minum, pakaian, tempat tinggal, perlindungan serta alat material lainnya. Aku adalah seorang hamba (khalifah di bumi) dari Tuhan dan agama yang aku percayai. Aku adalah seorang pelajar yang belajar di sekolah swasta disatu daerah. Dan aku adalah makluk sosial yang berinteraksi dengan masyarakat dilingkunganku. Aku adalah seseorang yang membutuhkan cinta dan kasih sayang dari orang di sekitarku, yang mempunyai rasa benci, senang, sedih dan lain sebaginya. Ya, itulah aku.
Tapi dari semua definisi diatas, semua orang juga mengetahuinya lagi pula itu sudah biasa diucapkan dan gak perlu ditanyakan kembali. Definisi-definisi yang aku sebutkan tadi seakan membuat aku tersentak karena dri sana aku bisa tahu pernah sebenarnya dalam hidup, tapi tetap saja aku belum merasakan kepuasan karna semua terkesan begitu standar dan serupa dengan yang lain, aku meyakini ada sesuatu yang lebuh mendasat dari itu semua. Dari sini aku berfikir pasti ada sesuatu yang lebih mendasar dari kategori dan definisi-definisi yang aku sebutkan tadi, tapi apa ?.
Aku mencoba menganalisa kata dari definisi-definisi diatas dan kemudian mengklasifikasikannya. Pertama, Aku sebagai seorang anak dari kedua orang tua yang mempunyai postur fisik berarti aku yang mempunyai unsur biologis atau materi, Kedua aku sebagi hamba dari Tuhan dan memeluk satu agama berarti aku yang memiliki aspek Spiritual, dan Ketiga aku yang memiliki rasa kasih sayang dan cinta serta ingin dicintai dan disayangi oleh orang disekitarku berarti aku yang memiliki aspek Psikologis. Sedangkan aku sebagai seorang kaka merangkap sebagi seorang adik kemudian sebagai seorang pelajar dan yang lainnya berarti aku disini adalah aku yang meiliki peran, peran yang aku mainkan dalam situasi dan kondisi tertentu. Ya, ketika aku berada di rumah berarti aku harus berperan sebagi seorang anak yang bisa bermanja-manjaan dan lain sebaginya, ketika aku sedang berkumpul dengan kakak-kakaku berarti aku harus berperan sebagai seorang adik, ketika aku sedang berada dengan kedua adikku berarti aku harus berperan sebagi seorang kakak yang harus mengayomi dan melindungi mereka, dan ketika aku berada di di sekolah atau didalam lingkungan masyarakat berarti aku harus menjadi seorang pelajar yang baik dan menjadi anggota masyarakat yang baik serta bersikap seperti seorang pelajar yang terpelajar. Maka ada benarnya apa yang dikatakan orang bahwa dunia ini adalah panggung sandiwara, dimana kita dituntut harus memainkan peran kita masing-masing, tapi aku fikir dalam sandiwara ini tidak ada sutradara yang bisa menghakimi sesuka dia ketika kita melakukan sebuah kesalahan.
Aku heran dengan peran-peran tersebut, mengapa peran yang harus kita mainkan banyak sekali, kadang kita harus begini, harus menjadi seperti ini dan seperti itu, aku fikir itu adalah kemunafikan. Apa benar aku ini adalah seorang yang munafik yang tidak mempunyai pendirian dan harus memainkan banyak peran yang berbeda-beda, atau lebih halusnya aku adalah seorang yang labil yang tidak mempunyai prinsip sebagai pegangan !. serntak aku tersadar kembali dan berfikir, kalau keadaannya seperti itu peran yang aku mainkan sampai sekarang adalah topeng, ya, manusia semua memakai topeng sebagai peran dalam hidup dan aku memahami kita mempunyai banyak topeng bahkan 1000 topeng kita pakai. Topeng yang kita pakai dari ”a” sampai ”z” adalah topeng dari peran yang harus kita mainkan, jadi dari ”A” sampai ”Z” itu adalah kita sendiri dan itu bukan berarti bahwa kita labil yang tidak mempunyai sebuah prinsip dan munafik, karna aku meyakini itu merupakan sebuah fleksibilitas dalam hidup. Aku yakin bahwa hidup ini tidak rijid dan kaku semua mempunyai titik temu yang bisa ditarik kekanan dan kekiri seiring perubahan yang terjadi tapi tidak melupakan pedoman/prinsp yang menjadi pegangan dalam hidup termasuk norma dan nilai-nilai Universal.
Memang dalam menghadapi kehidupan mau tidak mau dibutuhkan banyak peran, tapi tentunya semua tidak harus berbenturan antara satu dengan yang lainnya, karna semua dapat saling melengkapi dan sinergis. Hidup dengan berbagai macam peran memang tidak mudah, terkadang kita suka terkecoh dengan situasi dan kondisi yang sedang kita hadapi dan terkadang kita suka bersikap tidak sesuai porsi, porsi yang dimaksud adalah sikap yang sesuai dengan situasi yakni sikap yang proporsional (proporsionalisme), contoh mudahnya adalah bagaimana kita bisa berperan sebagai karyawan di dalam sebuah kantor dan menjadi seorang anggota masyarakat ditengah-tengah masyarakat, jangan sampai ketika kita hidup dalam lingkungan masyarakat kita masih tetap membawa lebel atau jabatan yang disandang dalam sebuah perusahan atau pekerjaan.
Berbicara tentang konsep memang sangatlah mudah akan tetapi ketika berbicara dalam tataran taktis sangat sulit untuk dilaksanakan. Untuk dapat mengaplikasikan sesuatu maka kita harus dapat bersikap radikal, radikal disini bukan berarti yang dipahami khalayak banyak sekarang, akan tetapi Radikal dalam arti yang sebenarnya. Radikal dalam arti yang sebenarnya ialah berasal dari bahasa yunani yang berarti mendasar dan berakar, jadi ketika sebuah konsep akan diaplikasikan tentunya kita harus mengetahui arti dan maksud secara mendasar.
Pagi harinya aku merasa mataku sulit untuk dibuka sedangkan alarm dari jam wekerku terus berbunyi dengan nyaring seakan akan menusuk-nusuk gendang telinga ini. Karna jam weker itu berada jauh dari tempat tidurku maka akupum terpaksa harus bangun dan menjangkaunya untuk dimatikan. Setelah kaki dan badan ini aku gerakan ternyata mata ini enggan untuk dipejamkan kembali, maka aku putuskan untuk bergegas mandi. Setelah selesai membersihkan badan aku coba untuk membuka tirai jendela kamarku, tapi kayaknya matahari pagi ini kurang begitu bersahabat, sinarnya seakan menusuk mataku perih sekali, apa ini efek dari begadang ? tapi apa daya aku paksasakan juga mata ini supaya terus terjaga karena hari ini aktifitasku lumayan padat.
Setelah beberapa jam aku melaksanakan aktifitasku, aku merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku dan itu cukup berpengaruh pada kosentrasiku untuk melakukan sebuah aktifitas. Entah perasaan apa yang terus menghantui diri perasaan ini seakan memaksa aku untuk berlari meninggalkan segenap rutinitas pekerjaanku sehari-hari, entah ini kejenuhan, kurang stamina, atau mungkin kekurangan vitamin karena banyaknya aktifitasku dalam bergadang. Tapi yang pasti perasaan ini membuat aku terasa hampa, kosong dan bahkan aku merasakan tidak ada sesuatu yang mengisi diri ini, seperti halnya gelas kosong yang kehilangan airnya karna telah diminum atau bahkan bagaikan sebuah rumah besar yang kumplit dengan segala perabotannya yang mewah tapi tidak ada penghuni didalamnya layaknya rumah tanpa tuan yang ada hanya keheningan dan kehampaan. Aku gelisah karna ada sesuatu yang memaksa aku untuk lari dan terus berlari, aku dipaksa untuk berteriak dan dipaksa untuk memikul sebuah beban yang sangat berat, berat sekali. Entah apa itu, yang pasti perasan itu membuatku tidak nyaman untuk terus berdiam diri apalagi tetap diam dan terjebak dengan berbagai macam rutinitas.
Karna perasaan ini terus membawaku untuk lari kepada sesuatu yang tidak aku mengerti dan terus memenuhi otakku untuk memberontak pada rutinitas keseharianku maka aku putus untuk pulang dan beristirahat dirumah. Di atas kasurku yang sederhana itu, sebelum mataku terpejam aku berusaha memikirkan kejadian tadi yang terus membuatku gelisah dan merasa ada dalam kehampaan, tapi setelah beberapakali aku mencobanya ternyata tidak juga berhasil sampai-sampai anganku terus melayang dan membawaku kealam mimpi.
Tidakterasa ketika mata ini terbuka ternyata hari sudah merganti dengan malam. Setelah membersihkan badan aku merebahkan badanku di atas shofa sambil mengarahkan wajah ke Televisi yang berada tepat didepanku tapi telingaku tetap dijejali dengan air phon dari i pod. Aku mendengar suara tanpa gmbar dan aku melihat gambar tampa bersuara, semua seperti mimpi buruk tapi mimpi yang membingungkan dan terus bersemayam dalam ranah kesadaran. Malam semakin beranjak sepi, hiruk pikuk jalanan kini terasa hening. Anganku kembali melayang pada apa yang terjadi padaku siang tadi, sebuah kejadian yang membuatku terasa kering dan hampa maka dengan sekejap munculah pertanyaan yang sampai saat ini aku masih merasa bingung dan gusar. Apakah aku ini ?. sesekali kupikir pertanyaan tersebut mungkin ada sebuah hubungan & korelasi dengan apa yang terjadi padaku sing tadi, ya, tentang kehampaan, kekosongan dan kegelisahan. Jadi sebelum aku memikirkan tentang Apakah aku ini sebenarnya, maka pertanyaan itu harus aku mulai dengan pertanyaan tentang kehampaan, kekosongan dan kegelisahan, yakni pertanyaan tentang Ada dan ketiadaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: