Aku dan aku

ya, sampai saat ini aku baru menyadari bahwa aku memiliki beberapa unsur yang ada dalam diri dan ini menandakan bahwa manusia merupakan sesuatu yang unik. Manusia memiliki berbagai macam aspek yang menopang dan melengkapinya, aspek biologis sebagai unsur Material, unsur Psikologis dan spiritual sebagai Aspek Metafisis, dan itu membuktikan bahwa manusia mahluk multidimensi. Dengan jawaban diatas sedikitnya aku memahami siapa sebenarnya aku, aku yang harus berperan dan fleksibel dalam setiap situasi dan kondisi dimana aku berada.
Aku kembali tersadar untuk kembali pada pertanyaan apakah aku ?, aku mencoba memikirkan kembali tentang apa yang menjadi keresahan dan kegusaran dalam menjalani kehidupan ini. Aku kembali mencari sebuah referensi atas apa yang menjadi pertanyaanku karna aku fikir ketika aku melakukan sesuatu hal aku harus mempertanggungjawabkannya termasuk dam menjawab sebuah pertanyaan aku harus bernai mempertanggungjawabkannya dengan sebuah reverensi yang dianggap kavabel, karna aku anggap aku belum cukup kavabel dalam hal ini, jadi aku harus mencari sebuah referensi sebagai rujukan.
Yang absolut dan yang profan, itu kata yang menarik untuk menjadi rujukan dalam pertanyaan ini. Aku dan aku, berarti secara tidak langsung aku mempunyai dia arti aku dengan ”a” kecil dan Aku dengan ”A” besar. Aku dengan ”A” besar berarti aku yang absolut dan aku dengan ”a” kecil berarti aku yang profan. Apa maksud dari Aku absolut dan aku yang profan ?
Absolut berati sesuatu yang suci, tidak dapat disentuh, tidak bisa diotak-atik, dan tidak ada sesuatu yang dapat mengintervensi atas segala hal menyakkut dirinya singkatnya yng absolut adalah sebuah sistem yang ada pada sebuah perangkat. Adapun Profan adalah kebalikannya yakni, sesuatu yang dapat disentuh, tidak suci, dapat diganggu gugat, dapat diotak-atik dan dipoles singkatnya sebuah perangkat yang dapat diganti dan berudah tapi memiliki sebuah sistim yang tetap yakni Aku dengan ”A” besar.
Aku yang absolut dengan ”A” besar berarti Aku yang suci dan abadi, taktersentuh oleh apapun dan ini yang membuat aku bergerak dan berkehendak. Sedangkan Aku yang Profan dengan ”a” kecil berarti aku yang dapat berubah seiring berubahnya ruang dan waktu karna ini merupakan instumen tambahan yang membantu Aku absolut untuk dapat beraktualisasi dan bereksistensi. Jadi dapat di simpulkan Aku Absolut berarti Aku yang memiliki uansur metafisis dan aku Profan berarti aku yang material.
Kalau kita analisa dari awal bahwa manusia hidup didunia yang material (fisik), sehingga ketika manusia yang memiliki aspek metafisis harus diwadahi dengan sesuatu yang bersifat material dan itu adalah tubuh fisik karna tidak mungkin sesuatu yang metafisis dapat bersentuhan atau berhubungan langsung dengan unsur material dengan tanpa perantara atau media, jadi tubuh fisik manusia merupakan instumen yang memediasi hubungan manusia dengan dunia/alam. Jadi apa yang disebutkan palato sebagai dunia ide adalah diamana manusia berada sebagai jati dirinya yang absolut dan dunia material yang disebuatkan Decrates adalah aspek material dari segala sesuatu seperti halnya manusia yang memiliki tubuh fisik (jasad).
Sampai disini aku bisa mengeri bahwa manusia (Aku) memiliki aspek lain yang menjadikan bergerak dan berkehendak, memiliki keinginan, cita-cita dan lain sebaginya. Tapi kalau di fikir ulang lantas apa yang membedakan Aku dengan yang lainnya, dengan oreng disekitarku, dengan hewan, tumbuhan dan benda-benda yang lainnya? Karna kalau aku yang hanya memiliki aspek metafisis semua juga memiliki unsur metafisis (kalau memakai konsep Palato tentang dunia ide).
Komunikasi dan Bahasa
Selain menciptakan sebuah tatanan kehidupan dalam bermasyarakat manusia dengan akal fikirannya mampu menciptakan sebuah sarana untuk berinteraksi dengan sesamanya. Bahasa, dengan bahasa manusia dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesamanya. Menurut Jurgen Habermas salah seorang filosof jerman mengatakan bahwa yang memediasi antara manusia dan sesamanya adalah dengan bahasa/komunikasi dan komunikasi menjadi salah satu instumen penting dalam berinteraksi dan sosialisasi dengan sesamanya.
Senada dengan Habermas salah seorang filosof muslim menjelaskan bahwa manusia adalah ”Hayawan an-Natiq” yakni Hewan yang berfikir dan berbicara, dan ia menegaskan bahwa akal fikiran yang kemudian menciptakan bahasa sebagai sarana interaksi manusia dengan sesamanya.
Memeng benar hewan juga berinteraksi dan berkomunikasi akan tetapi mereka tidak dapat menciptakan bahasa (simbol-simbol) sehingga mereka tidak dapat berkomunikasi secara efektif. Dan itu perbedaan yang cukup mendasar juga ketika manusia telah menciptakan bahasa yang bermacam dan beranekaragam, hewan dengan kodratnya tetap berkomunikasi sama seperti pertama mereka diciptakan.
Dengan sarana komunikasi tersebut (bahasa) manusia mampu berinteraksi dan beraktualisasi dengan baik. Beraktualisasi dan berinteraksi secara terorgnisir merupakan instrumen penting pula untuk membedakan manusia dengan hewan, tumbuhan dan yang lainnya, karena dengan organisasilah manusia dapat menciptakan sebauh tatanan kehidupan yang rapih, tujuan-tujuan, norma dan hukum-hukum. Hal tersebut diungkapkan salah seorang filosof sosialis yang bernama Karl Marx, dia menekankan dengan tegas bahwa manusia dengan akalnya mampu mengorganisir semua bentuk aktualisasi dan interaksi dengan sesamanya untuk mendapat semua yang menjadi tujuannya dan itu yang disebut Mark sebagai Produksi.
Aktualisasi dan Afektifitas
Bergerak/ bereaktualisasi merupakan salah satu dari sekian sifat dasariah manusia, dengan sifat dasariah tersebut manusia -dengan kemampuan berbahasanya- mampu menciptakan simbol-simbol (nama-nama) pada wujud atau eksistensi lain yang ada disekelilingnya. Dalam proses interaksinya dengan wujud lain manusia mampu memperoleh pengetahuan yang kemudian masuk dan menginternalisasi pada diri subjek untuk menuju kesempurnaan eksistensinya (benda-benda dapat dimanifestasikan dan orang-orang dapt dikenal). Pengetahuan tidakakan tercapai ketika subjek tidak membuka diri untuk berinteraksi dengan objeknya (alam atau wujud materil yang ada), maka yang akan terjadi adalah hanya sebuah pantulan-pantulan cermin alam/dunia.
Tidak hanya dengan pengetahuan manusia dapat dibedakan dari hewan, tumbuhan dan benda-benda mati lainnya, manusia dan hewan memiliki kelebihan yang akhirnya dapat membedakan diri secara rill dengan tumbuh-tumbuhan atau benda-benda yang tidak bergerak lainnya, dialah afektivitas sebuah kegiatan merespon sesuatu yang ada di lingkungan atau disekelilingnya, dan dengan afektivitas pula hewan dan manusia “berada” secara aktif dalam dunia dan berpartisipasi dengan segala bentuk kejadian atau fenomena yang ada[1].
Perbuatan atau kegiatan afektif harus dipahami sebagai segala pergerakan atau kegiatan batin yang ditarik oleh objek (menolak atau mendekatinya). Perbuatan afektif sedikit mirip dengan perbuatan mengenal karena mengenal juga merupakan sebuah tindakan vital/imanen, dalam hal ini subjek menjadi aktor utama dalam memberikan sebuah respon atau menerimanya. Perbuatan afektif juga dapat dikatakan berbuatan intensional dimana si subjek membuka dirinya dan dihubingkan dengan objek[2].
Afektifitas bias dipula dikatakan pokok pangkal dari setiap kegiatan yang dilakukan oleh manusia, baiak bemberi sebuah petanda, nama atau yang lainnya termasuk berbicara. Dengan adanya afektivitas manusia dapat menggerakan semua organ tubuh termasuk hatinya untuk melakukan sebuah tindakan, sebagai contoh ketika kita tertarik akan sesuatu hal maka dengan bekal pengetahuan dan afektivitas manusia akan mencoba membuat sebuah tindakan, ketika ketertarikan tersebut akan bembahayakan dirinya maka dia akan menjauh dan ketika ketertarikan itu membuat dirinya nyaman maka diakan akan terus mendekat dan terus berinteraksi dengannya. Demikian pula ketika kita berbicara, dengan afektivitas kita akan membuat sebuah gerakan (baik mimik wajah, tekanan dan gerakan tubuh lainnya) yang akan mengekspresikan pengetahuan atau keinginan kita, dan biasanya kita akan berbicara pada sesuatu (orang) yang membuat kita tertarik, cocok atau merasa nyaman. Dengan afektivitas kita didorong untuk melakukan sesuatu hal (respon), baik mengikatkan diri dari sesuatu, melepaskan diri, mendekatkan diri, atau melakukan sebuah tindakan aktif seperti menyerang, membela diri, bertempur dan sebagainya.
Adapun kondisi-kondisi Afektivitas manusia ketika dia mengalami suasana afektif adalah; Disposisi Afektif Dasariah. Dari sedut pandang ini afektifitas dipandang dari dua segi/sudut dasariah atau berputar pada dua kutub bertentangan. Berawal dari sebuah respon terhadap sesuatu maka subjek (manusia) akan mencoba mendekati sesuatu, ketika hal tersebut dianggap baik olehnya dan dia akan menjauhinya ketia itu dianggap jelek, jahat atau sesuatu yang akan merintanginya. Secara sepintas kedua afektivitas tersebut terkesan sebagi afektivitas dasar, padahal kalau kita perhatikan, katakanlah kegiatan mendekati, menyukai adadah mencintai dan menjauhi sesuatu, merintangi adalah membenci, maka akan menjadi jelas bahwa cinta-lah sebagai kegiatan afektif dasariah karena ketika sesuatu dipandang akan menjauhkan atau merintangi maka sebenarnya hal tersebut adalah sebuah penghalang bagi sesuatu yang kita cintai (menggapai, mendekati atau memilikinya). Jadi pada hakikatnya cita merupakan berada atau asal mula dari seluruh hidup/kegiatan afektif, sekurang-kurangnya cinta akan diri sendiri.
Sikap-sikap. Berangkat dari hal pertama diatas (cinta dan benci) akan melahirkan sebuah Anggapan atau kecenderungan dan Maksud dari si subjek dalam berhubungan dengan objeknya. Ketika subjek menganggap objeknya jahat (berdasar karna jahat bukan sifat dasar afektif) maka akan melahirkan satu konsekuensi yakni, kebencian yang merakibat menjauhi atau malah melawan, menyarang atau menghilangkannya. Berbeda halnya dengan cinta sebagi sifat dasar afektif, dia akan menimbulkan 2 konsekuensi (sikap) yakni mendekati, memiliki dan interaksi kemudian ketika objek tersebut dianggap jahat atau buruk dia akan tetap berusaha untuk mendekati atau berinteraksi karena nilai, manfaat, keuntungan (yang ada pada objek) baik bagi untuk umum atau pribadi. Dalam kasus membenci, menjauhi atau menghilangkan berlaku sikap cinta diri sendiri (cinta utilitaris) dan pada kasus yang yang kedua yakni mendekati karena ada sebab –nilai, manfaat serta lainnya- disebut cinta kebaikan hati, tanpa pamrih (amour de bienveillance, amour desintresse, amour oblatife). Secara singkat dapat dikatakan cinta Utilitaris bersifat bermanfaat atau mementingkan diri sendiri/egois sedangkan cinta tanpa pamrih si objek akan tetap melakukan yang terbaik demi keutuhan nilai itu sendiri atau manfaat khalayak (apresiasi).
Penetuan sikap afektif subjek oleh objek. Subjek dalam merespon objeknya menampilkan sebuah suasana yang disebut perasaan, perasaan merupakan disposisi afektif yang stabil yang tidak mengganggu keseimbangan psikologis subjek. Yang menjadi permasalahan disini adalah emosi, emosi merupakan kegiatan afektif yang mendadak dan kuat, yang disertai dengan gangguan organik (penyulut) dan dapat mengubah kelakuan subjek secara drastis. Emosi dapat menjadi sumber kekuatan, ketegasan, inisiatif kreativitas pada diri subjek ketika subjek dapat menguasai perasaannya, dilain pihak emosi juga dapat menjadi sumber bencana, memalukan dan merugikan ketika perasaan tersebut tidak dapat dikendalikan yang akhirnya membabi buta hal ini dapat diantisipasi dengan pengetahuan atau penguasaan diri (akal sehat).
Penguasaan subjek terhadap objek. Masih dalam kerangka cinta dan benci (beserta rekan-rekannya atau sesuatu yang mendekati), subjek dalam hal merepons kedua hal tersebut dapat mengakibatkan kemungkinan-kemungkinan sikap afektif. Dalam hal mencintai atau menginginkan sesuatu hal maka dalam jangka waktu tertentu subjek akan mengalami sebuah usaha (waktu), dalam usaha tersebut subjek akan mengalami sebuah harapan-harapan akan kesenangan dan kegembiraan, keputusasaan dan sebagainya. Demikian juga dengan kebenciaan, subjek akan mengalami keresahan, kecurigaan, ketakutan, kemarahan bahkan semangat yang berkobar.
Hasrat-hasrat jiwa demikianlah para filosof terdahulu mengatakan keadaan-keadaan afektif yang telah dipaparkan diatas. St Aquinas dalam buku Summa teologica bagian kedua, Decrates dalam buku Urayan tentang nafsu-nafsu, Spinoza dalam buku Etika. Para filosof yang disebutkan diatas sangat konsen membahas mengenai kegiatan afektif, secara garis besar nafsu dapat di kelompikan menjadi 2 ; pertama, nafsu yang cenderung mengikat pada hal-hal yang baik (nafsu hasrat), kedua, nafsu yang mempersiapkan untuk bertempur atas apa yang melawannya. Alferd Adler menyebut nafsu bertempur ini sebagai “Dorongan untuk berkuasa” sedangkan nafsu yang cenderung mengikat pada kebaikan disebut oleh Etienne de Greef sebagai “Naluri-naluri Simpati”[3].
Ya, aku sangat beruntung menjadi manusia yang memiliki aka fikiran serta kehendak bebas. Aku yakin dengan kehendak tersebut tidak ada yang bisa mencegah atau menghalanginya apalagi membunuhnya karna kehendak bebas manusia tidak hanya dapat dilakukan dalah bentuk aktualsisasi saja kehendak tersebut dapat dilakukan dalam fikiran. Tak ada yang dapat menghalanginya sekalipun itu Tuhan. Aku dapat melakukan sesuatu sesuai dengan kehendakku -terlepas dari norma dan hukum yang ada- semuanya dapt dilakukan. Bahkan dalam memilih salah satu kepercayaanpun manusia tidak dapat dipaksa dan di kekang, karna kenapa karna manusia mahluk yang merdeka, bebas tanpa batasan.
[1] Leahi, Louis. Siapakan Manusia, Kanisius Jakarta 2001, hal 107
[2] Ibid. hal 112
[3] Leahi, Louis. Siapakan Manusia, Kanisius Jakarta 2001, hal 111

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: