Siapakah Aku

Ya siapakan aku ? pertanyaan ini terus membayangi setiap detik urat saraf yang ada didalam otakku. Siapakah aku ? aku tidak tau siapa aku sebenarnya, namaku adalah syafiq jawad, itulah nama yang diberikan oleh kedua orang tuaku ketika aku lahir kedunia. ketika namaku Syafiq, lantas siapakah aku seblum aku diberi nama oleh orang tuaku ? manusia, ya manusia tapi siapa itu manusia ? aku merasa aku gila, apakah orang lain juga menanyakan hal ini ? jangan-jangan aku memang orang aneh yang bertanya tentang diri sendiri, tapi aku piker aku akan menjadi lebih aneh lagi kalau aku tidak mencari tau siapa aku sebenarnya dan bagaimana aku bias sayang terhadap diri sendiri kalau aku tidak tau siapa diriku. Aku ingat ada pepatah mengatakan “tak Kenal Maka Tak Sayang” dan itu yang harus aku lakukan, sebelum aku dapat menyayangi diriku sendiri maka aku harus mencari tahu siapa aku ini sebenarnya.
Aku akan coba menelusuri arti dan siapa sebenarnya aku, walaupun aku sudah mencoba mendefinisikannya pada waktu yang telah lalu, tapi aku measa kurang yakin dengan definisi tersebut, definisi itu terlalu sederhana dan mungkin semua orang juga mengetahuinya (aku adalah anak dari kedua orang tuaku, aku adalah mahluk yang diciptakan Tuhan dan aku sebagai anggota masyarakat dalam lingkuanganku). Untuk mengukuhkan kembali apa yang aku yakini maka aku akan mencoba menguraikanya kembali dengan pengetahuan yang seadanya.

Aku Biologis dan Aku Material
Aku memahi aku yang biolologis (material), maka secara otomatis aku akan membutuhkan sesuatu yang bersifat material (sandang, pangan dan papan). Aspek material membutuhkan sesuatu yang bersifat material pula, semua harus senergis dan teratur, maka disini dibutuhkan sebuah pula atau sebuah ritme. Pola atau ritme ini akan melahirkan cara dan gaya dalam bersikap/tingkahlaku.

Sudah menjadi konsekuensi logis bagi manusia yang mempunyai aspek material pasti membutuhkan aspek material pula. Sedikit contoh, manusia dalam mempertahankan hidupnya (keberlangsungan hidup) manusia membutuhkan minum, makan, tempat perlindungan dan lain sebagainya, sudah menjadi keniscayaan dalam mencukupi kebutuhan hidupnya manusia harus menciptakan alat produksi (mesin produksi) yang akan memfasilitasi dirinya untuk bertahan dan melanjutkan kehidupannya[1].
Dalam formulasi materialisme dialektis, Engels mengatakan bahwa “tangan bukan hanya sebuah organ buruh (alat material) tapi ia juga merupakan produk dari buruh (menciptakan sebuah produk material). “Artinya sejarah manusia berjalan membentuk perubahan atau berevolusi, dan manusia mulai berkarya sehingga merubah dirinya sendiri. Fisik dan pemikiran.
Dengan alat produksi (mesin produksi) manusia dapat menciptakan berbagai macam produk sebagai fasilitas manusia dalam bertahan hidup. Makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal (perlindungan) dan lain sebaginya. Dengan mesin produksi manusia dapat berkreasi dalam menciptakan sebuah produksi, seperti yang kita lihat sekarang, kita ambil contoh sandang, makanan misalnya, banyak sekali ragam dan jenis makanan yang ada dihadapan kita, sea food, fast food serta food-food lainnya yang membuat libido makanan kita naik dan berselera untuk melahapnya. Dalam hal minuman bisa kita lihat berbagi jenis minuman, ada miniman mineral, vitamin, alkohol dan lain sebaginya, dalam hal sandang manusia dapat menciptakan alat dan mesin-mesin produksi, kalaulah dulu kita tahu pakaian dibuat memakai tangan atau alat tenun maka sekarang bisa kita lihat bagaimana beribu-ribu pakaian diproduksi dengan mesin yang mungkin dapat menghasilkan produk lebih banyak dari mesin tenun atau dengan tangan saja dan bahkan kualitasnya bisa lebih baik dari produk tenun, kalu dulu dalam waktu sehari dengan mesin tenun manusia dapat menghasilkan produksi empat atau lima produk maka sekarang dengan mesin manusia dapat menghasilkan beribu-ribu bahkan ratusan ribu dalam satu hari. Demikian juga dalam hal papan (rumah, tempat tinggal dan tempat perlindungan), dengan mesin produksi yang diciptakan, manusia dapat menghasilkan berbagai macam produk dan jenis, kalaulah dulu kita hanya bisa tidur (tinggal) di rumah jerami dan kayu (bilik-bilik) maka sekarang kita bisa tinggal di dalam gedung, apartemen, hotel dan lain sebaginya dengan kasur empuk dan selimut yang tebal, semua itu manusia ciptakan untuk melindungi diri dari berbagaimacam bahaya yang akan membahayakan dirinya. Kalaulah dulu rumah diciptakan untuk melindungi manusia dari ancaman hewan buas atau cuaca (panas dan dingin) maka sekarang rumah diciptakan untuk kenyamanan dan ketenangan.
Manusia, selain dapat menciptakan berbagi macam produksi manusia juga dapat berkreasi dengannya, bisa kita lihat banyak berbagai macam kemasan untuk mengkemas hasil-hasil produksi, ada yang pake plastik, botol atau kap. Dengan kecanggihan teknologi sebagai hasil dari kreasi manusia dia dapat menciptakan semua hal yang dapt menunjang keberlangsungan hidupnya di dunia. Selain bertahan untuk keberlangsungan hidupnya, semuanya manusia ciptakan dalam rangka berkreasi dan mengaktualisasikan diri (bereksistensi).
Kebutuhan sandang pangan dan papan tidak lagi menjadi sebuah kebutuhan untuk bertahan hidup, pada zaman modern sekarang ini, kebutuhan dasar (pokok) untuk menunjang kebutuhan dan bertahan telah beralih fungsi menjadi life stile (gaya hidup). Bisa kita lihat sekarang pada generasi muda yang mengaku dirinya modern dalam berlaga dan bergaya atau akrab kita sebut generasi MTV yang memakai berbagai macam aksesoris baik pakaian bahkan pada tubuhnya, tidak hanya generasi anak muda atau ABG saja gejala tersebut sudah menjamur dikalangan orang tua atau menjelang dewasa mungkin pengkemasan saja yang sedikit berbeda. Gejala life stele atau budaya hedon tersebut sudah menjamur dan menginternalisasi dalam tubuh masyarakat kita akan tetapi mereka tidak sadar bahwa sebenarnya mereka dimanfaatkan oleh kaum kapitalis yang ingin menggaruk materi dan kekuasaan. Hal ini bukan berarti bahwa life stel yang modis abis atau budaya hedon adalah negatif akan tetapi kita harus sadar dengan esensi dari instrumen kebutuhan tersebut, karena kalu kita tidak mengerti dan memahami dengan baik esensi tersebut maka yang akan terjadi adalah gejala ekor-mengekor seperti bebek yang hanya bisa ikut-ikutan dengan stile orang lain yang sebenarnya bertolak belakang dengan budaya, norma dan kurang baik atau kurang menguntungkan bagi kita, yang pasti jangan sampai terjadi kita merasa kurang gaul atau kurang modis ketika kita tidak mengikuti budaya yang ada (budaya MTV, dugem, atau anak-anak gaul lainnya).
Dalam hidup dan mencukupi kebutuhan material membutuhkan sebuah pola (pola hidup). Seperti yang kita tahu sekarang, banyak sekali orang yang menganjurkan atau membuat sebuah pola bagaimana menjalani kehidupan, contohnya pola hidup sehat, dan pada jaman sekarang ini hal tersebut sudah menjadi sarana market atau lahan berbisnis yang marketebel baik dari segi sandang, pangan dan papan.
Sandang merupakan unsur penting pertama dari tiga unsur pokok kebutuhan manusia, sandang tidak lagi menjadi kebutuhan pokok tapi dijaman modern ini dandang sudah menduduki posisi yang urgen dan sangat mendasar. Mungkin pada jaman dulu pada abad-abad sebelumnya sandang (pakaian dan mode) tidak begitu urgen dalam kehidupan. Manusia modern menyadari bahwa dalam kehidupan bermasyarakat stile menjadi sesuatu yang sangat penting, penampilan luar menjadi sesuatu yang bisa dibenggakan dan tonjolkan.
Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda. Mungkin itulah salah satu contoh ungkapan manusia modern yang begitu mementingkan style. Stile bagi manusia modern menjadi susuatu yang sangat penting dalam menunjang kehidupan, kesan pertama menjadi perhitungan dan pertimbangan penentuan bagi langkah selanjutnya, maka dari itu style menjadi sangat penting.
Banyak orang berlomba-lomba dan rela mengorbankan banyak meteri untuk hal demikian, dari mulai mode, sampai aksesoris-aksesoris yang membalut tubuh. Pusat kebugaran dan kecantikan, butik-butik dan distro pakaian banyak berjamuran di dunia modern semua tidak lain dan tidak hanya untuk kepentingan membalut tubuh semata, tapi lebi kearah mode dan life stile, tak jarang pula manusia menciptakan standarisasi-standari. Contohnya, standarisasi kecantika dan ketampanan (sosok ideal ) seseorang, padahal semua itu diciptakan atas dasar kepentingan market maka terciptalah standar-standar yang secara tidak sadar semua orang menyepakatinya. Kalaulah kita ditanya, sosok wanita cantik atau laki-laki ganteng itu seperti apa sih ? maka sepotan kita akan menjawab bahwa wanita cantik itu bertubuh langsing, tinggi, rambutnya panjang, kulitnya putih dan perawakannya sintal serta padat berisi, kalau laki-laki tubuhnya tinggi, atletis (tidak gemuk) berotot, putih dan lain sebaginya. Ketika hal tersebut sudah menjadi standarisasi maka wanita laki-laki yang tidak termasuk kriteria tersebut – katakanlah gemuk atau gendut, kurus, pendek, hidung pesek, hitam – tidak dikatakan cantik atau ganteng. Kalau seperti itu kenyataannya maka bersedihlah orang-orang yang tidak mempunyai uang untuk membayar semua itu, dari mulai membeli alat-alat kecantikan, kebugaran karena seperti yang kita tahu alat-alat seperti itu cukup tinggi harganya sehingga hanya dapat dimiliki oleh orang-orang yang berduit saja, dengan kata lain ”kecantikan dan kegantengan hanya dimiliki oleh orang-orang berduit saja”.
Kubutuhan manusia terhadap unsur materi ternyata tidak hanya berbentuk sandang pangan atau papan semata, manusia juga membutuhkan sesuatu yang dapat membuat dirinya nyaman (kesehatan dan vitalitas tubuh), maka berdasr pada kebutuhan tersebut manusia menciptakan alat (instrumen) untuk menunjang hal tersebut, misalnya salon kecantikan (pedycure, madicure), pijat refleksi, vitnes dan pusat-pusat kebugaran. Dalam hal penampilan saja manusia banyak menciptakan berbagai macam produk perawatan tubuh dari merek A sampai merek Z, baik body skin, body cream, Gell, Sun Dlok dan dan berbagai macam polesan lainnya sampai-sampai manusia menciptakan sebuah operasi untuk memperbaiki anggota tubuh yang katanya kurang Oke. Pemasangan kawat (behel) pada gigi, operasi wajah biar oval, operasi hidung biar mancung dan berbagai macam operasi tubuh yang lainnya, padahal kalau kita menyadari fungsi dasar dari alat tersebut mungkin oprasi-operasi tersebut tidak akan terjadi tapi ini bagi orang-orang yang kurang memprioritaskan penampilan tapi bagi orang-orang yang sangat memprioritaskannya semua akan dia lakukan untuk menunjang penampilannya biar menarik dan Oke dihadapan publik. Semua itu manusia ciptakan karena manusia sadar akan unsur biologis (tubuh fisik) pada dirinya, Rambut, mata, halis, hidung, mulut (wajah), tangan badan, kaki dan lain sebagainya.
Demikianjuga dalam hal pangan (konsumsi makanan) orang banyak menciptakan sebuh menu yang dapat menunjang vitalitas tubuh, semua diperhatikan dan diteliti secara mendetil, dari hal tersebut maka lahir yang dinamakan 4 sehat 5 sempurna. Selain itu, ditengah jaman yang semakin moderen dan teknologi yang mutakhir maka makanan banyak yang dicampur dengan zat-zat tambahan seperti zat pewarna, zat pengawet atau cara pengolahan yang mekanistis, dan hal tersebut yang pada awalnya ingin menunjang pola konsumsi yang sehat mengkibatkan sebuah truble pada pola itu sendiri. Maka dari itu banyak para ahli yang bergerak dibidang tersebut menganjurkan untuk kembali kepada alam (back to nature), pengolahan secara alamiah, tidak memakai zat kimia dan lain sebagainya.
Adapun dalam hal Papan (tempat tinggal, fasilitas dan lain sebaginya) banyak yang melahirkan pola yang pada awal bertujuan untuk menunjang kesejahteraan umat manusia tapi pada kenyatanya semua hanya menjadi sebuah gangguan yang bertentangan dengan pola dan ritme yang telah ada (terlepas dari kepentingan bisnis). Rumah kaca, sarana transportasi dan pabrik-pabrik kimia, yang pada awalnya bertujuan untuk menunjang kesejahteraan dan kenyamanan dalam hidup juatru menjadi sebuah kendala dan penyakit bagi manusia itu sendiri. Kita bisa lihat efek dari rumah kaca, polusi yang diakibatkan asap dari kendaraan bermotor dan pabrik-pabrik yang menyisakan limbah dimana-mana, semua menjadi halangan dan kendala bagi manusia itu sendiri (disamping menguntungakan). Efek dari rumah kaca dan polusi yang semakin tak terkendali mengakibatkan lapisan ozon yang melindungi bumi menjadi menipis bahkan ada kemungkinan bolong. Selain mengkibatkan cuaca yang semakin panas hal tersebut mengakibatkan berbagai penyakit yang akan diderita oleh manusia itu sendiri (paru-paru, radang, sesak dan kanker).
Penyakit paru-paru, kangker, usus, kangker dan lain sebaginya. Semua merupakan sebuah efek yang disebuat moderenitas yang berdalih pensejahteraan dan penujang kehidupan manusia. Sungguh sangat ironis, paradok dan sangat membingungkan. Tapi itulah yang sekarang terjadi pada dunia sekarang ini, zaman yang katanya moderen, maju sekaligus angkuh. Kenapa angkuh, karena manusa sekarang sudah lupa akan tugas, kodrat dan jati dirinya untuk hidup didunia, manusia lupa akan esensi dari kebutuhan, esensi dari materi dan esesnsi akan hidup. Manusia lupa bahwa alam adalah sahabatnya (manusia hidup di dan dengan alam) maka jangan salahkan alam ketika alam bergejolak dan memuntahkan segala keresahannya dengan bencana-bencana yang ada karena semuanya merupakan sebuah konsekuensi logis yang harus diterima akibat tangan-tangan jahil manusia (kapitalis) yang tidak bertanggung jawab, yang hanya mementingkan kepentingan (nafsu) pribadi dan golongannya.
Manusia merasa menjadi pengusa (raja) atas alam, yang bisa memperlakukan dan mengeksploitasi alam dengan seenak jidatnya, tanpa memperhitungkan konsekwensi jangka panjang yang akan diterima oleh generasi setelahnya,. Maka bohong ketika mereka sayang kepada anak cucunya tapi hutan terus digunduli (ilegaloging penebangan kayu secara liar) dan laut terus eksploitasi secara radikal, lantas apa yang akan kita wariskan kepada anak cucu kita nanti, ketika alam sudah rusak, air dan udara sudah kotor, hutan sudah gundul dan tanah sudah gersang !
Ya, aku mulai memahami bagimana segala sesuatu harus mempunyai pola, pola yang proporsional. Pola bagaikan sebuah ritme atau irama dalam sebuah lagu, kapan harus minor dankapan harus mayor, kapan harus menekan kunci A atau konci-kunci selanjutnya maka dapat dipastikan lagu yang mengalun akan terdengar sangat indah, baik itu lagu Reggae, Rock, Pop, Hip-Hop, Dangdut, alternatife dan lain sebaginya. Demikian pula hidup, kita harus tahu kapan harus tidur, bangun, berolahraga, makan, beraktifitas dan lain sebaginya. Ketika kita sudah memahami kebutuhan dasar (esensial) yang menjadi pola dan ritme hidup maka kita bisa menjamin vitalitas tubuh material kita. Karna sesuatu yang material harus ditunjang dengan hal yang bersifat material pula. Tapi janganlah lupa, dalam menunjang kebutuhan material tersebut harus tetap memperhatikan norma dan etika kita terhadap lingkungan atau alam yang nantinya tidak mengakibatkan bencana dan kerusan baik untuk diri kita atau untuk alam.

Aku Psikologis
Aku fikir tidak hanya aspek material saja kita harus mempunyai pola dan ritme, dalam aspek psikologis juga demikian, kita harus mempunyai ritme dan irama tersendiri.
Aspek biologis (Materil) dan aspek psikologis (kejiwaan) keduanya saling berkaitan, berjalan beriringan dan tentu keduanya tidak dapat dipisahkan. Memang berbeda, tapi dari sebuah perbedaan akan melahirkan sebuah sinergi yang saling mengisi satu samalin. Seperti kata pepatah ”didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat” begitu juga sebaliknya ”didalam jiwa yang sehat terdapat tubuh yang kuat”.

Walaupun pepatah tersebut terluahat paradok, tapi dapat dipastikan anatara aspek biologis dan kejiwaan keduanya saling melengkapi dan saling mengisi. Memang tidak selamanya dalam tubuh yang sehat itu terdapat sebuah kekuatan jiwa (jiwa yang sehat), begitu juga sebaliknya didalam jiwa yang sehat belum tentu terdapat tubuh yang kuat.
Kalau aku fikir kembali pernyataan dari kedua hal tersebut semua tidak dapat dipastikan secara pasti semua mungkin dan mungkin karna aku meyakini dalam dunia ini tidak ada sesuatu yang pasti (pasti bukan berarti keniscayaan) semua serba mungkin dan mungkin, karena kenapa ? karena manusia merupakan sebuah mahluk yang unik, mahluk yang selalu ada dalam kerentanan (kemungkinan) dan semua dapat terjadi pada manusia. Ada kalanya seseorang yang sehat secara jasmani (tidak berarti mempunyai tubuh yang atletis dan otot yang kekar) terkadang mengalami gangguan kejiwaan dalam dirinya, semuanya dapat dibuktikan secara ilmiah dan itu hanya dapat dilakukan oleh mereka yang mendalami ilmu kejiwaan (psikologi). Demikian pula sebaiknya, banyak juga orang yang secara kejiwaan relatif stabil (sehat) tapi dalam tubuh mengalami gangguan atau sebuah penyakit yang diderita.
Banyak sekali contoh yang bisa di buktikan dari kedua kasus tersebut, misalnya ditengah perkembangan jaman yang begitu modern yang segalanya bertitik terkan pada hal yang berbau materi atau fisik banyak orang yang berani mengeluarkan tidak sedikit dari koceknya untuk mempunyai tubuh atletis dan otot yang kekar atau dengan kata lain tubuh yang perfik, seseorang yang rajin senam, mengikuti latihan kebugaran dan lain sebagainya kemudian ditambah dengan berbagai macam polesan dari mulai pakaian dengan berbagai macam aksesoris dan polesan. Ternyata mereka menemukan sesutu yang kurang dalam dirinya, misalnya sebuah ketenangan dan kebahagiaan dari jiwa, mereka terlihat gusar dan kosong dan akhirnya mengakibatkan gangguan kejiwaan (kelainan) yang akhirnya itu di klem sebagi penyakit kejiwaan. Bahkan banyak yang secara materil sudak tercukupi tapi mereka dihantui dengan perasaan cemas dan ketakutan bahkan ada dalam sebuah kasus mereka bunuh diri.
Hal ini menunjukan bahwa tidak selamanya dalam tubuh yang sehat itu terdapat jiwa yang sehap pula, demikin sebaliknya. Jadi yang harus kita lakukan sekarang adalah bersikap proporsional dan tidak melakukan titik tekan pada salah satu bagian saja, kita harus membuatnya berjalan beriringan sinergis dan saling mengisi.
Adapun dalam hal mentenence aspek psikologis semua harus di seting berdasarkan porsi dan waktu yang tepat, kapan kita harus bermanja-manjaan, kapan harus bersikap hormat, kapat harus tertawa gembira dan kapan kita harus sedih, semua ada waktunya. Terkadang aku sendiri belum bisa melakukannya dan bersikap secara proporsional. Terkadang ditengah keramaian ketika aku berjalan dengan kedua orng tuaku, aku ingin sekali bermanja-manjaan tapi seharusnya aku bersikap hormat dan bersikap baik dihadapan semua orang. Dan terkadang juga ketika suasana hati sedang sedih dan gusang tiba-tiba salah seorang teman mendapatkan sebuah kebahagian atau sedang serius menghadapi sebuah persoalan, terkadang aku susah bersikap karna ini pilihan antara mengikuti suasana hati dan bersikap seperti yang diharapkan teman kita, semua sulit untuk dikendalikan dan lilakukan sesuai konsep. Meskipun aku tau apa yang harus aku lakukan tapi itu benar-benar sulit, dihadapkan pada 2 pilihan. Kalau aku mengikuti suasana hati berarti aku tidak solider dan tidak mampu membahigiakan seorang teman, tapi ketika aku bersikap seperti yang diharapkan maka aku adalah orang membodohi diri sendiri. Tapi yang pasti adalah sebuah pilihan yang bijak ketika kita sanggup membahagiakan orang yang berada didekat kita walaupun itu harus mengobankan diri sendiri.
Demikianlah kita harus mengatur sebuah pola dan irama kehidupan, semua harus di set dan disetel sesuai dengan porsinya agar lagu yang didendangkan dalam kehidupan ini mengalun dengan indah, tak terdengar sebuah nada yang mengganggu telinga. Tapi tak selamanya nada fals itu tidak indah, ada kalanya nada fals dalam kehidupan itu perlu karna manusia tidak selamanya harus melantunkan nada seperti yang telah ditetapkan. Nada fals itu indah tapi tergantuk individu yang menangkapnya.
Aku Spiritul
Nada-nada indah dalam kehidupan dilantuntan, tapi tidak terbatas hanya dalam aspek biologis dan psikologis saja nada tersebut dalap dilantunkan juga oleh nada yang dimiliki oleh aspek spiritual. Jangan kira aspek spiritual tidak mempunyai seni dalam perjalanannya, nada yang dimainkan aspek spiritual justru bisa lebih pareatif dari nada-nada sebelumnya.
Seni dalam ritme sipiritual harus dipahami dengan sebenar-benarnya karna ini menyangkut aspek rohani dan kepercayaan akan sesuatu. Aku tidak akan jauh membahas ini karna aspek ini lebih tepat dibahas pada tataran theologis, tapi tidak ada salahnya kalau kita menyinggung sedikit mengenai ritme dan nada spiritul ini.
Ritme dalam ragu yang didendangkan aspek spiritual ini berdasar pada pemahaman kita tentang kepercayaan itu sendiri. Sebutlah itu Tuhan. Tuhan yang kita yakini dan kita sangat percaya pada segenap kekuasaannya memaksa kita harus tunduk dan patuh pada setip perintah dan larangannya, demikianlah orang banyak memahaminya. Tapi kalau aku fikir kembali seseorang berhak untuk tidak memahami demikian karena semua berdasar pada persepsi masing-masing individu, karna persefsi inilah seseorang akan berjalan dan memainkan ritmenya.
Kalaulah Tuhan dibayangkan sebagai sesuatu yang sangat kuat dan menyeramkan kemudian kita hanya sebagi mahluk yang rendah dan sangat lemah maka yang akan terjadi adah sebuah hirarki dan ritme yang dimainkanpun akan terasa kaku dan rigid, tidak ada kebebasan dan keharmonisan yang sinergis didalamnya. Tapi kalu kita mencoba memahami bahwa Tuhan kita adalah fleksibel (dalam artian peran) maka kita akan menjalankan ritme dengan nada yang pareatif, terkadang kita akan bermain dengan nada tegas (tinggi) atau dengan nada yang sangat rendah sekalipun. Ketika kita memahami demikian maka Tuhan akan menjadi sesuatu yang kita persepsikan, Dia akan menjadi teman kita dalam berdialog dan Curhat, Dia akan menjadi sosok orang tua yang kita bisa bermanja-manjaan dengannya, Dia juga akan bisa menjadi seorang guru atau konsultan yang kita dapat mengadukan sesuatu dan sharing tentang sebuah permasalahn, dan yang pasti Dia juga bisa menjadi Tuhan yang sebenarnya yang akan kita sembah sebagaimana seorang hamba yang menyembah Rajanya (tuannya).
Sungguh akan berpareasi ketika kita menganggap Tuhan sebagai sesuatu yang fleksibel, tidak kaku dan rigid apalagi sebagai sosok yang sangat menakutkan.
Ya, mungkin demikin pola, ritme dan irama dalam setiap aspek dalam diri manusia, semua harus berjalan beriringan sesuai dengan porsi dan kebutuhan. Aspek biologis, psikologis dan spiritual, semua harus dijaga supaya seimbang, tidak ada ketimpangan didalamnya karna suanya merupakan sebuah kesatuan yaitu manusia, diri kita dan Aku.
Ya, itulah aku, berarti dengan ini pertanyaan siapa aku sedikit sudah terjawab, yakni aku yang mempunyai aspek biologis (materil), spiritual dan psikologis, kemudian aku yang mempunyai berbagaimacam peran yang harus aku mainkan dalam menjalani opera atau sandiwara kehidupan didunia.
Akhirnya ada juga udara segar kebebasan yang bisa aku hirup dari sesaknya udara kebingungan, tapi masih ada pertanyaan yang belum bisa aku jawab yakni apakah aku ini ?. tapi sepertinya aku belum bisa menjawabnya malam ini, karna selain waktu hampir menjelang pagi dengan terdengarnya suara kokokan ayam yang memecah heningnya malam ini, aku juga masih belum mendapat gambaran jawaban atas pertanyaan tersebut. Akhirnya aku memutuskan untuk menghentikan aktifitas berfikirku dengan beristirahat karna pada esok hari aku harus bersiap untuk menjalankan aktifitas serta rutinitas seperti biasanya.
[1] Leahi, Louis. Siapakan Manusia, Kanisius Jakarta 2001, hal, 62.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: