AFEKTIVITAS

Siapakan Manusia ?

Ketika kita menjadi mahluk yang hanya dapat mengenal tanpa rasa maka  kita hanya akan memantukkan dunia seperti cermin-cermin yang netral.

Bergerak/ bereksistensi merupakan salah satu dari sekian sifat dasariah manusia, dengan sifat dasariah tersebut manusia -dengan kemampuan berbahasanya- mampu menciptakan simbol-simbol (nama-nama) pada wujud atau eksistensi lain yang ada disekelilingnya. Dalam proses interaksinya dengan wujud lain manusia mampu memperoleh pengetahuan yang kemudian masuk dan menginternalisasi pada diri subjek untuk menuju kesempurnaan eksistensinya (benda-benda dapat dimanifestasikan dan orang-orang dapt dikenal). Akan tetapi seperti yang telah diterangkan pada bab terdahulu bahwa pengetahuan tidakakan tercapai ketika subjek tidak membuka diri untuk berinteraksi dengan objeknya (alam atau wujud materil yang ada), maka yang akan terjadi adalah hanya sebuah pantulan-pantulan cermin alam/dunia.

Tidak hanya dengan pengetahuan manusia dan hewan dapat dibedakan dari tumbuhan dan benda-benda mati lainnya, manusia dan hewan memiliki kelebihan yang akhirnya dapat membedakan diri secara rill dengan tumbuh-tumbuhan atau benda-benda yang tidak bergerak lainnya, dialah afektivitas sebuah kegiatan merespon sesuatu yang ada di lingkungan atau disekelilingnya, dan dengan afektivitas pula hewan dan manusia “berada” secara aktif dalam dunia dan berpartisipasi dengan segala bentuk kejadian atau fenomena yang ada.

Jika benar kehadiran manusia didunia adalah dengan pengetahuan maka dengan afektivitaslah manuasia dapat mendalami dunia dan kehidupannya tentunya afektifitas dan pengetahuan sebagai pendorong untuk bergerak dan berbuat. Maka dengan ini jelaslah bahwa sebuah pengetahuan tidak akan menjadi wujud nyata (angan-angan, utopisme) ketika afektifitas tidak ada dan hadir dalam diri manusia, dan dengan afektivitas pulalah manusia dan hewan dapat merespons setiap sesuatu yang ada dalam lingkungannya secara nyata (apakah harus didekati atau dijauhi).

Kekeyaan Dan Kompleksitas Afektivitas Manusia.

Seperti yang telah disebutkan diatas bahwa manusia memiliki kemampuan berbahasa dan  pengetahuan, berbekal kedua hal tersebut manusia dapat membuat symbol, definisi dan mengenal segala sesuatu yang ada disekelilingnya. Telah disebutkan pula bahwa manusia dengan hewan memiliki kemampuan afektivitas dimana kemampuan tersebut dapat menjadi sebuah penentu apakah objek (Dunia yang telah termanifestasi) akan direspon atau tidak (digerakan dalam sebuah wujud perbuatan), karena ketika hewan atau manusia melihat atau memperhatikan sesuatau tidak ada respon tertentu (didekati atau dijauhi).

Afektifitas bias dipula dikatakan pokok pangkal dari setiap kegiatan yang dilakukan oleh manusia, baiak bemberi sebuah petanda, nama atau yang lainnya termasuk berbicara. Dengan adanya afektivitas manusia dapat menggerakan semua organ tubuh termasuk hatinya untuk melakukan sebuah tindakan, sebagai contoh ketika kita tertarik akan sesuatu hal maka dengan bekal pengetahuan dan afektivitas manusia akan mencoba membuat sebuah tindakan, ketika ketertarikan tersebut akan bembahayakan dirinya maka dia akan menjauh dan ketika ketertarikan itu membuat dirinya nyaman maka diakan akan terus mendekat dan terus berinteraksi dengannya. Demikian pula ketika kita berbicara, dengan afektivitas kita akan membuat sebuah gerakan (baik mimik wajah, tekanan dan gerakan tubuh lainnya) yang akan mengekspresikan pengetahuan atau keinginan kita, dan biasanya kita akan berbicara pada sesuatu (orang) yang membuat kita tertarik, cocok atau merasa nyaman.

Dengan afektivitas kita didorong untuk melakukan sesuatu hal (respon), baik mengikatkan diri dari sesuatu, melepaskan diri, mendekatkan diri, atau melakukan sebuah tindakan aktif seperti menyerang,  membela diri, bertempur dan sebagainya. Sampai pada titik ini kita memahami bagaimana kompleksitas afektivitas manusia atau bias dikatakan masih rancu atau abstrak karma sampai saat ini kita belum mengetahui yang mana sebenarnya kegiatan afektiv dari manusia itu sendiri, apakah semua kegiatan yang diakibatkan dari sebuah respon tertentu atau hanya kegiatan-kegiatan tertentu saja yang dapat diseput kegiatan afektiv ?

Untuk memperjelas masalah ini, terlebih dahulu kita harus meneliti dan menganalisa afektivitas dari berbagai sudut pandang yang ada dan berbeda-beda.

Disposisi Afektif Dasariah. Dari sedut pandang ini afektifitas dipandang dari dua segi/sudut dasariah atau berputar pada dua kutub bertentangan. Berawal dari sebuah respon terhadap sesuatu maka subjek (manusia) akan mencoba mendekati sesuatu ketika hal tersebut dianggap baik olehnya dan dia akan menjauhinya ketia itu dianggap jelek, jahat atau sesuatu yang akan merintanginya. Secara sepintas kedua afektivitas tersebut terkesan sebagi afektivitas dasar, padahal kalau kita perhatikan, katakanlah kegiatan mendekati, menyukai adadah mencintai dan menjauhi sesuatu, merintangi adalah membenci, maka akan menjadi jelas bahwa cintalah sebagai kegiatan afektif dasariah karena ketika sesuatu dipandang akan menjauhkan atau merintangi maka sebenarnya hal tersebut adalah sebuah penghalang bagi sesuatu yang kita cintai (menggapai, mendekati atau memilikinya). Jadi pada hakikatnya cita merupakan berada atau asal mula dari seluruh hidup/kegiatan afektif, sekurang-kurangnya cinta akan diri sendiri.

Sikap-sikap. Berangkat dari hal pertama diatas (cinta dan benci) akan melahirkan sebuah Anggapan atau kecenderungan dan Maksud  dari si subjek dalam berhubungan dengan objeknya. Ketika subjek menganggap objeknya jahat (berdasar karna jahat bukan sifat dasar afektif) maka akan melahirkan satu konsekuensi yakni, kebencian yang merakibat menjauhi atau malah melawan, menyarang atau menghilangkannya. Berbeda halnya dengan cinta sebagi sifat dasar afektif, dia akan menimbulkan 2 konsekuensi (sikap) yakni mendekati, memiliki dan interaksi kemudian ketika objek tersebut dianggap jahat atau buruk dia akan tetap berusaha untuk mendekati atau berinteraksi karena nilai, manfaat, keuntungan (yang ada pada objek) baik bagi untuk umum atau pribadi. Dalam kasus membenci, menjauhi atau menghilangkan berlaku sikap cinta diri sendiri (cinta utilitaris) dan pada kasus yang yang kedua yakni mendekati karena ada sebab –nilai, manfaat serta lainnya- disebut cinta kebaikan hati, tanpa pamrih (amour de bienveillance, amour desintresse, amour oblatife). Secara singkat dapat dikatakan cinta Utilitaris bersifat bermanfaat atau mementingkan diri sendiri/egois sedangkan cinta tanpa pamrih si objek akan tetap melakukan yang terbaik demi keutuhan nilai itu sendiri atau manfaat khalayak (apresiasi).

Penetuan sikap afektif subjek oleh objek. Subjek dalam merespon objeknya menampilkan sebuah suasana yang disebut perasaan, perasaan  merupakan disposisi afektif yang stabil yang tidak mengganggu keseimbangan psikologis subjek. Yang menjadi permasalahan disini adalah emosi, emosi merupakan kegiatan afektif yang mendadak dan kuat, yang disertai dengan gangguan organik (penyulut) dan dapat mengubah kelakuan subjek secara drastis. Emosi dapat menjadi sumber kekuatan, ketegasan, inisiatif kreativitas pada diri subjek ketika subjek dapat menguasai perasaannya, dilain pihak emosi juga dapat menjadi sumber bencana, memalukan dan merugikan ketika perasaan tersebut tidak dapat dikendalikan yang akhirnya membabi buta hal ini dapat diantisipasi dengan pengetahuan atau penguasaan diri (akal sehat).

Penguasaan subjek terhadap objek. Masih dalam kerangka cinta dan benci (beserta rekan-rekannya atau sesuatu yang mendekati), subjek dalam hal merepons kedua hal tersebut dapat mengakibatkan kemungkinan-kemungkinan sikap afektif. Dalam hal mencintai atau menginginkan sesuatu hal maka dalam jangka waktu tertentu subjek akan mengalami sebuah usaha (waktu), dalam usaha tersebut  subjek akan mengalami sebuah harapan-harapan akan kesenangan dan kegembiraan, keputusasaan dan sebagainya. Demikian juga dengan kebenciaan, subjek akan mengalami keresahan, kecurigaan, ketakutan, kemarahan bahkan semangat yang berkobar.

Hasrat-hasrat jiwa demikianlah para filosof terdahulu mengatakan keadaan-keadaan afektif yang telah dipaparkan diatas. St Aquinas dalam buku Summa teologica bagian kedua, Decrates dalam buku Urayan tentang nafsu-nafsu, Spinoza dalam buku Etika. Para filosof yang disebutkan diatas sangat konsen membahas mengenai kegiatan afektif, secara garis besar nafsu dapat di kelompikan menjadi 2 ; pertama, nafsu yang cenderung mengikat pada hal-hal yang baik (nafsu hasrat), kedua, nafsu yang mempersiapkan  untuk bertempur atas apa yang melawannya. Alferd Adler menyebut nafsu bertempur ini sebagai “Dorongan untuk berkuasa” sedangkan nafsu yang cenderung mengikat pada kebaikan disebut oleh Etienne de Greef sebagai “Naluri-naluri Simpati”.

Lebih mendasar lagi sebuah kegiatan afektif sangat dipengaruhi oleh yang namanya suasana hati. Suasana hati dapat sangat berkaitan erat dengan kondisi biologis yakni ketika kegiatan biologis dapat terlaksana dengan baik maka akan membawa suasana yang menyenangkan dan ketika kegiatannya terbengkalai maka keresahan, tidak percaya diri dan sebagainya akan mempengaruhi suasana hati tersebut. Singkatnya afektivitas sangat di dasari oleh keadaan organik dan psikologis (tubuh dan roh).

Yang bukan perbuatan Afektif

Mengetahui adalah penerimaan, partisipasi dan komunikasi, demikin pula halnya dengan cinta orang sering menganggap pahwa cintalah cara mengetahui atau mengenal secara istimewa yakni berusaha untuk mengerti dan memahami. Dari kedua pandangan diatsa terkadang orang suka mengacaukan antara yang poko dan yang pangkal miasalnya saja ketika seseorang mengetahui tentang sesuatu hal maka dia dapat mengerjakannya atau mengaktualisasikannya kedalam wujud yang nyata karena dapat kita amati bahwa seorang teolog bulum pasti dia mengerjakan apa yang ada pada teologi, seorang psikolog belum tentu keadaan jiwanya selalu stabil dan seimbang dan seorang yang mengerti tentang kebenaran, keadilan dan cinta dia dapat mengaktualisasikan dalam wujud afektif.

Pengetahuan dengan cinta, seperti yang dikatakan diats sering terjadi kekacauan, demikian pula halnya dengan cinta itu sendiri, orang sering mengatakan perbuatan-perbuatan yang menuju pada cinta dikatakan cinta. Padahala cinta itu sendiri telah mendahului perbutan-perbuatan. Dilam proses mencintai itu sendiri banyak timbul kegiatan afektif miasalnya rasa cemburu, keresahan, kekesalam, pengharapan padahal yang esesnsi dari cinta iru sendiri adalah pengorbanan, keikhlasan hati, persuaian, kecocokan dan kerelaan. Dalam hal ini orang sering terjebak ketika dia banyak mengusahakan untuk memiliki sesuatu (cinta) akan tetapi dia malah terjebak pada tujuan-tujuan yang bukan cinta itu sendiri, maka lahirlah kekecewaan dan kesengsaraan.

Dalam afektivitas sering terjadi kesahpahaman, yakni hanya merujuk pada hasrat baik saja, padahal afektivitas itu sendiri setiap perubahan dari kesan yang ditangkap baik itu kebaikan atau keburukan entah dalam hal fisik atau psikologis tergantung pada keadaan yang ada disekitarnya, jadi afektifitas melingkupi semu kegiatan afektif. Afektifitas melingkupi semu kegiatan afektif yang berdasar pada kegiatan naluriah, pisik, psikis, spiritual dan lain sebagainya sejauh itu merupakan respon terhadap objek.

Perbuatan afektif

Perbuatan atau kegiatan afektif harus dipahami sebagai segala pergerakan atau kegiatan batin yang ditarik oleh objek (menolak atau mendekatinya). Perbuatan afektif sedikit mirip dengan perbuatan mengenal karena mengenal juga merupakan sebuah tindakan vital/imanen, dalam hal ini subjek menjadi aktor utama dalam memberikan sebuah respon atau menerimanya. Perbuatan afektif juga dapat dikatakan berbuatan intensional dimana si subjek membuka dirinya dan dihubingkan dengan objek.

Dari penjelasan diatas masih terlihat samara mana yang pengetahuan dan mana yang afektivitas, dan sekarang kita akan mencoba membedkan keduanya; sedikitnya ada 5 yang membedakan pengetahuan dengan afektivitas: pertama, dalam pengetahuan si subjek membuka diri terhadap objek sedangkan afektif lebih bertindak pasif yakni subjek hanya menerima pengaruh dari objek apakah objeknya menarik atau menolak. Kedua, sejauh subjek di pengarhi oleh objek  secara intensif maka perbuatan afektif bias disebut lebih ekstatis ( dibawa keluar dari dirinya seolah-olah dilepaskan dari objeknya) dari perbuatan mengenal. Ketiga, perbuatan afektif dipandang lebih paradoksal dan dimamis dimana  perbuatan tersebut mempersiapkan dan mendirong dirinya untuk bergerak. Keempat, perbuatan afektif terlihat lebih realistis karena subjek lebih berhubungan apa yang nyata dan langsung terhadap objeknya, meskipun pada akhirnya subjek akan mengalami ekstatis. Kelima, perbuatan afektif lebih bersikap partisipasi dan kesatuan, dimana subjek dapat menglami dan berhubungan langsung dengan respond dan pengaruh yang ditimbulkan objek.

Kondisi-kondisi Afektivitas manusia

Untuk mencapai afektivitas subjek harus berada dalam sebuah kondisi dimana subjek akan melahirkan kegiatan afektif, adapun kondisi-kondisi tersebut ialah : pertama, antara subjek dan objek harus ada ikatan kesamaan atau kesatuan itu sendiri, karena ketika tidak ada kesamaan maka tidak akan ada afektivitas. Sebagai contoh ketika kita berhubungan dengan sebuah objek maka dalam diri objek terdapat sesuatu yang membuat kita tertarik atau menjauhinya, sesuatau yang ada pada diri objek pasti juga ada dalam diri subjek yang akhirnya akan menimbulkan kegiatan afektif baik menerima atau menolak.

Kedua, nilai (baik dan buruk), dalam kondisi ini, ketika objek dipandang memiliki sebuah nilai maka subjek akan melahirkan kegiatan afektif, karena afektifitas itu sendiri adalah berdasar pada kecintaan akan sesuatu maka subjek pada akhirnya akan melahirkan kegiatan afektif untuk menolak atau menerima.

Ketiga, sifat dasariah dan kecenderungan kognitif, pada kondisi ini subjek akan dalam melakukan sebuah afektif harus ditunjang dengan sebuah sifat dasariah yang akan mendorong dia untuk lebih cenderung, selera, berkeinginan akan sesuatu yang pada akhirnya akan menimbulkan kegiatan afektif yang ternyata memang sesuai dengan sifat dasarih tersebut.

Keempat, mengenal adalah kausa dari afektivitas. Dalam proses mengenal subjek akan mengalami kondisi dimana dia harus berusaha mendefinisikan objek yang akan dikenalinya dan ketika definisi tentang objek tersebut telah tercapai maka pada akhirnya akan lahir sebuh keputusan afektif apakah dia harus menyerang, mencintai, memp[ertahankan diri atau yang lainnya.

Kelima, imajinasi. Untuk menimbulkan kegiatan afektif maka imajinasi dapat menjadi sebuah pendorong, semangat, mempengaruhi bahkan membohongi. Pengetahuan pertama (baik dari pengalaman atau informasi dari pengenalan) akan melahirkan sebuah deskripsi awal tentang objek, maka dalam kondisi ini subjek akan dipengaruhi untuk bertindang seperti apa yang ia dapat pada penglaman-pengalaman dan imajinasi yang dia dapatkan terdahulu.

Dari penjelasan-penjelasan diatas jelaslah bahwa perbuatan afektif tidak cukup subjek mengenal objek, menggunakannya dan menarik perhatiannya akan tetapi secara fundamental ia disipkan oleh keadaan dan kondisi itu sendiri yang menyebabkannya.

Pada penjelasan terdahulu telah di sebutkan bahwa kegiatan afektif harus ada peran roh/jiwa atau psikis. Dalam hal keinginan akan sesuatu yang akhirnya menimbulkan perbuatan afektif disana sangat berperan apa yang namanya cinta, kesenangan, kegembiraan dan kebahagiaan (beserta lawan-lawannya). Keinginan-keinginan tersebut akan membawa subjek pada kegiatan afektif yang bersifat eksistensial (materialis) yang pada akhirnya berakibat pemenuhan dan pemilikan akan sesuatu, dalam hal tersebut harus dicurigai bahwa kesenangan tersebut memperhatikan nilai yang ada atau sebuah kecintaan pribadi yang akhirnya menegasikan yang lain. Maka kebahagiaan sebagai sikap dasariah afektif menegaskan bahwa roh harus dadir disana dan bahwa kebahagiaan tidak berarti mengambil atau memiliki akan tetapi partisipasi dan intensionalitas dengan objeklah yang akhirnya akan menjadi kebahagiaan.

Dalam hal mencintai terkadang tidak terasa ada sebuh hirarki yang akhirnya menjadi sebuah prioritas atau menegasikan yang lainnya, contoh; ketika kita mencintai diri sendiri, kemudian mencintai orang lain yang mana yang akan menjadi sebuah prioritas ? (yang akan melahirkan perbuatan afektif). Hirarki yang takterdefinisi tersebut sebenarnya tidak perlu ada kata prioritas atau menegasi yang lainnya, karena dalam hal mencintai –seperti yang telah ditegaskan pada penjelasan sebelumnya- lebih mengungkapkan perbuatan afektif yang bersifat partisipasi, kesatuan dan penggabungan. Jadi jelaslah bahwa ketika kita dapat mencintai diri sendiri maka akan secara otomatis dia akan mencintai oranglain karena dia telah mengerti hakikat diri dan jiwa dari “keberadaannya dalam dunia”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: