Capres, Tinggalkan Menara Gading

Sangat banyak suara yang memintanya untuk bersedia dicalonkan jadi presiden pada Pemilu 2004. Ia dinilai sebagai seorang kandidat yang bisa menyaingi Megawati Soekarnoputri dan Amien Rais yang sudah final akan dicalonkan partainya. Semula, Cak Nur ikut konvensi calon presiden Partai Golkar, tapi ia kemudian mundur. Namun ia tetap bertekad akan maju dengan dukungan beberapa partai.

Saking banyaknya permintaan dan pertanyaan tentang kesediaannya dicalonkan jadi presiden atau wakil presiden, akhirnya Senin 28 April 2003, sehari sebelum Rapim Partai Golkar, cendekiawan muslim Nurcholish Madjid pertama kali secara terbuka menyatakan kesediaannya untuk menjadi calon presiden.

Pernyataan kesediaan dicalonkan dalam perebutan kursi presiden itu dinilai beberapa pihak merupakan pertanda seorang cendekiawan akan meninggalkan “menara gading”. Cak Nur menyatakan telah mantap untuk bersaing merebut kursi Presiden RI pada Pemilu 2004 meskipun belum jelas partai mana yang akan mencalonkannya.

Kesiapannya menjadi presiden secara jelas dikemukakan dalam jumpa pers di Kampus Universitas Paramadina, Jakarta, Senin 28/4/03 yang khusus diadakan untuk itu. Pada saat itu secara khusus ia menjelaskan platformnya sebagai calon presiden yang terdiri dari 10 hal, yaitu mewujudkan good governance, supremasi hukum, rekonsiliasi nasional, reformasi ekonomi, pemerkuatan pranata demokrasi, peningkatan ketahanan dan keamanan nasional, pemeliharaan keutuhan wilayah negara, peningkatan mutu pendidikan, keadilan sosial, dan penciptaan perdamaian dunia.

Kesepuluh platform tadi merupakan syarat mutlak darinya jika partai politik akan mengajukan namanya sebagai calon presiden. Jika partai politik lebih memilih nama, namun enggan menerima kesepuluh patform yang diajukan itu, maka Cak Nur dengan tegas menolaknya. Rektor Universitas Paramadina itu menegaskan bahwa pendekatan yang ia lakukan adalah platform, bukan dirinya pribadi. Jadi ia mendahulukan platform, bukan orang.

Dalam kesempatan berikutnya, menyinggung pernyataan kesediaan dirinya untuk dicalonkan, ia mengatakan tidak harus semata-mata dikaitkan dengan urusan pemilihan presiden 2004. Yang lebih penting dari itu adalah agar makin banyak orang yang terlibat dalam memikirkan format bangsa yang dikehendaki. Menurutnya, untuk menyuarakan hal itu, kadang kala perlu loudspeaker. Baginya, mencalonkan diri adalah upaya menjadi loudspeaker. “Soal kalah menang, saya tidak urusan,” ujarnya tanpa beban.

Ia juga mengatakan tidak akan mendekati kelompok-kelompok tertentu. Namun, ia akan menunjukkan platformnya kepada kelompok yang mendekatinya. Ia akan tanya, “Setujukah dengan platform ini? Kalau tidak, no way. Kalau tidak, saya lebih suka di sini mengajar mahasiswa-mahasiswa,” ucapnya. “Maaf saja, memang angkuh betul. Tapi hanya dengan keangkuhan ini Indonesia bisa beres nanti.”

Hal yang penting, menurut Cak Nur, semua pihak harus mengambil peranan aktif dalam meneruskan atau membangun kembali Indonesia, di luar atau di dalam pemerintahan. “Kalau di dalam, harus berani mengambil inisiatif tingkat tinggi. Jadi, memang bukan strong man, tetapi strong governance. Sebab, kalau strong man, nanti mudah sekali tergelincir kepada kediktatoran. Tetapi, kalau di luar, harus berani mengambil kedudukan sebagai oposisi tingkat tinggi,” katanya. arena itu, ia tetap akan maju, bukan semata-mata untuk menang menjadi presiden, melainkan untuk memasarkan dengan kuat platformnya.

Lantas bagaimana sesungguhnya peluang Cak Nur menjadi presiden. Dalam polling yang dilakukan Soegeng Sarjadi Syndicated (SSS) menempatkan pasangan calon presiden dan wapres pada Pemilu 2004 Nurcholish Madjid-Jusuf Kalla lebih unggul (meraih 62,8% suara responden) dibandingkan pasangan Megawati Soekarnoputri-Susilo Bambang Yudhoyono (34%). Sementara pasangan lain hanya 3,2% suara responden.

Pengumuman hasil jajak pendapat SSS tersebut dikemukakan oleh Direktur Eksekutif SSS Sukardi Rinakit, Rabu (21/5). Polling tersebut dilakukan mulai 2-15 Mei 2003 terhadap 10.000 responden di 15 kota dan 14 kabupaten di Indonesia. Komposisi responden terbesar berasal dari kelompok wiraswasta, pegawai swasta, pelajar, dan mahasiswa.

Sedangkan hasil polling SSS bulan Maret 2003, duet Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Jusuf Kalla menempati posisi tertinggi dengan perolehan 27,9 persen. Posisi kedua duet Nurcholish dan Jusuf Kalla dengan 27 persen. Sementara, Megawati dan Susilo Bambang Yudoyono 19,2 persen.

Tahun 1999, dia sempat digadang-gadang sekelompok orang menjadi calon presiden. Tapi Nurcholish tak mau karena tahu diri bukan orang partai. “Apalagi Gus Dur sudah mencalonkan diri. Saya menjadi makmum saja. Masa, harus ada dua imam,” katanya. Namun, Nurcholish tak berhenti mengkritik Presiden Abdurrahman Wahid. Bahkan Ketua Umum PDI Perjuangan yang sekarang jadi presiden, Megawati Soekarnoputri, diminta tak lagi mencalonkan diri pada Pemilu 2004. “Sebab, ada peluang kondisi Indonesia tak akan membaik dari krisis ekonomi seperti pada masa Megawati saat ini. Pertanyaan besarnya adalah kita tahan-enggak untuk lima tahun sengsara lagi?” kata Nurcholish pertengahan April lalu.

Megawati ternyata tak menggubris permintaan itu. Dan Nurcholish bereaksi dengan menggelar konferensi pers menyatakan siap jadi calon presiden pada Pemilu mendatang. Pernyataan itu segera menjadi kepala berita berbagai media cetak ataupun elektronik dan disambut gembira para pendukungnya.

Sebagai seorang cendekiawan, ia akan mempertimbangkan apakah akan menerima dukungan tersebut atau tidak. Namun, sampai saat ini ia mengaku cenderung untuk tidak menerima dukungan dengan porsi 60-40. Meskipun begitu, untuk menjaga keamanan nama-nama para pendukungnya, ia enggan menyebutkan siapa saja yang akan mendukungnya.

Sikap pasif yang diambil Cak Nur karena ia memasuki pertaruhan yang besar. Cak Nur sangat sadar bahwa kredibilitasnya bisa hancur jika ia terlalu aktif dalam mengajukan diri menjadi presiden. Maka, ia selalu mendahulukan platform sebelum mengajukan diri sebagai kandidat presiden. Sekali saja ia kalah dalam pertaruhan, maka bisa hancur.

Beberapa partai politik sudah mulai mendekatinya dan menanyakan kesesuaian platformnya dengan visi partai. Partai Golkar yang mengadakan Konvensi untuk menentukan calon presidennya dilirik Cak Nur. Cak Nur pun mendaftarkan diri sebagai salah satu kandidat calon presiden Partai Golkar.

Hingga batas terakhir pengajuan nama bakal calon presiden oleh Dewan DPD I Partai Golkar seluruh Indonesia, pukul 24.00 Rabu 30 Juli 2003, panitia Konvensi Pemilihan Calon Presiden Partai Golkar telah menerima 33 nama. Lima besar di antaranya adalah Surya Paloh dan Aburizal Bakrie masing-masing didukung 27 DPD, Wiranto 25 DPD, Jusuf Kalla 24 DPD, dan Akbar Tandjung 21 DPD.

Sementara itu, Nurcholish Madjid yang memperoleh dukungan dari 14 DPD secara resmi menyatakan mundur dari peserta konvensi Partai Golkar. Dia mengemukakan dua alasan pokok pengunduran dirinya, yaitu perbedaan nilai dan platform dalam menegakkan good governance dan keikutsertaan Akbar Tandjung dalam konvensi (sebagai the last hard proof – bukti kuat terakhir).

Satu masalah lain yang menjadi kendala dan kemudian dibicarakan banyak pihak adalah Cak Nur membawa bekal visi dan misi secara amat kuat, namun kader Golkar menanyakan “gizi” yang berarti uang sebagai syarat untuk memilihnya.

Mundurnya Cak Nur dari Konvensi Partai Golkar disambut hangat teman-temannya. Sebab, jika Cak Nur tetap ikut serta dan dicalonkan sebagai calon presiden dari Partai Golkar, hal itu akan membuatnya sulit bergerak. Partai Golkar, meskipun digembar-gemborkan sudah berubah dengan visi baru, namun dikhawatirkan masih memiliki sifat lama. Golkar masih dianggap sebagai bagian dari rezim Orde Baru yang seharusnya bertanggung jawab terhadap terjadinya krisis di negeri ini.

Setelah meninggalkan Partai Golkar, Cak Nur berharap pada “koalisi pelangi” yang terdiri dari partai-partai lain di luar Partai Golkar. Namun, karena koalisi ini masih “suram”, jadi belum bisa disebutkan partai mana saja yang akan mendukungnya sebagai calon presiden.

Ia menjelaskan, setelah mengalami masa transisi di era reformasi selama lima tahun ini, negara dan masyarakat sudah mulai berpikir realistis. Indonesia, menurutnya, karena terlalu lama berada di bawah pemerintahan rezim totaliter, tidak biasa mengambil inisiatif dari bawah dengan menyadari realitas harian, lalu lompat. Ia mencontohkan Rusia yang beretorika dan mengungkapkan kata glasnost, sehingga rakyatnya mengira semua problem bisa beres. Ternyata, Uni Sovyet malah bubar.

Setelah belajar, rakyat tentunya akan lebih cerdas dalam menentukan pilihan. Namun, Cak Nur tidak bisa memprediksi siapa yang benar-benar akan menang dan memiliki kans terbaik pada Pemilu 2004. Menurutnya, selalu ada kemungkinan tak terduga, seperti Jimmy Carter sebelum menjadi presiden. Orang menyebutnya “Jimmy who? Jimmy siapa ini?” Tapi ternyata, setelah menjadi presiden, dia bagus.

Di antara nama-nama yang kini beredar, katanya, selalu ada kemungkinan. Karena itu, ekstremnya, karena kita telah mengalami demokrasi, siapa pun yang dipilih rakyat, itulah pilihan kita. Memang bisa saja ada kecelakaan. Bisa saja pilihan kita adalah orang yang lemah atau orang buta huruf. Itu yang dulu saya bilang sama Pak Harto ketika beberapa pihak keberatan dengan Habibie. Kalau memang rakyat menghendaki, kenapa tidak? Kriteria pendidikan kan bisa dibuktikan dengan formal seperti ijazah, tapi soal kepemimpinan itu tak bisa diukur. Ada orang yang kita anggap punya leadership tapi ternyata anggapan kita salah. Ada yang SD saja tidak lulus ternyata malah memiliki leadership.

Cak Nur tidak mempersoalkan siapa yang menang pada Pemilu 2004. Bahkan kalau memang terpaksa, tokoh yang tidak populer pun berhak menjadi presiden sepanjang dipilih rakyat secara demokratis. Syaratnya, proses yang membawa kita ke sana itu faktor yang paling dasar, yaitu yang paling dikehendaki rakyat melalui pemilihan umum, itu harus dihormati. Siapa pun pemenangnya, ia ingin demokrasi di Indonesia ibarat pohon yang baru dipindah dari pot ke tanah. Sebab, akarnya harus menyesuaikan diri dengan ekologi baru. “Seperti itulah demokrasi kita. Itulah mengapa saya ingin melindunginya. Saya tak ingin itu mati prematur.”

Ia mencontohkan contoh kasus di AS. Bush sebenarnya kalah oleh Al Gore dalam popular vote, tapi dalam electoral vote persis sama. Dia menang dengan hasil di Florida itu, kan? Itu yang kemudian disahkan Mahkamah Agung. Tapi, begitu diputuskan, Al Gore datang, memberi selamat. Itulah yang harus terjadi. Al-Quran juga menurutnya mengajarkan, kita harus bermusyawarah dalam sebuah perkara, tapi begitu diputuskan, kita harus bertawakal kepada Allah. Kalau tidak begitu, tak akan ada kepastian. Hampir-hampir, biarpun keputusan itu salah, itu lebih baik daripada tidak ada keputusan.

Dia juga berharap, pada tahun 2004, akarnya bisa dianggap sudah memasuki tanah. Jadi, tidak lagi harus diperlakukannya sebagai pohon yang stres. Pohonnya sudah berdiri. Karena itu, tekanannya saat ini, presiden jangan dijatuhkan dulu. Itu tetap konsisten dengan ide presidensial bahwa lembaga kepresidenan harus dihormati. Nanti juga harus begitu, tapi dengan tambahan presiden jangan merasa aman-aman saja. Bisa dijatuhkan kalau melanggar hal-hal seperti keterlibatan suap, korupsi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: