Kegelisahan Soal Mutu Pendidikan

Di tengah kegelisahannya melihat kondisi bangsa saat ini, ia masih sempat menyoroti pembangunan pendidikan yang dianaktirikan selama ini. Mutunyapun memprihatinkan. Dari 106 negara, Indonesia berada di urutan ke 102.

Indonesia sudah 58 tahun merdeka, tapi kualitas pendidikan belum menggembirakan. Mutu pendidikan, Indonesia ketinggalan jauh, di banding dengan negara-negara tetangga. Merosotnya mutu pendidikan, tidak terlepas dari kebijakan pemerintah.

Selama ini dan cenderung masih berlangsung hingga sekarang, perhatian pemerintah untuk memajukan pendidikan kurang. Pengadaan sandang, pangan dan papan masih mendapat prioritas. Sementara pembangunan pendidikan ditempatkan diurutan ke sekian. Hingga kini, kebijakan pemerintah belum berpihak kepada pengembangan mutu pendidikan.

Bahkan pihak luar menilai fasilitas lembaga pendidikan Indonesia-kecuali Fakultas Kedokteran, tidak memenuhi syarat dan sudah ketinggalan zaman. Sistem politik Indonesia pun cenderung mengekang kebebasan lembaga pendidikan. Dengan sistem politik yang sangat sentralistik, fasilitas pendidikan menumpuk di Jawa hingga 65 persen sedang 35 persen lagi untuk daerah di luar Jawa. Akibatnya, pendidikan di luar Jawa sangat tertinggal di banding di Jawa.

Maraknya korupsi di Indonesia juga menjadi penghambat berbagai kemajuan termasuk bidang pendidikan. Lihat saja, ada pejabat atau mantan pejabat yang mengoleksi mobil-mobil mewah hingga belasan jumlahnya. “Saya tidak tahu dari mana duit pejabat itu sehingga mampu membeli puluhan mobil yang harganya ratusan juta rupiah”, kata Rektor Universitas Paramadina, Prof Dr Nurcholish Madjid, geleng kepala.

Di Amerika, Jepang dan negara-negara lain baik di Asia dan Eropa, perkembangan pendidikan hampir merata. Sebab, anggaran yang dialokasikan ke pendidikan besar dan berjalan lancar. Sementara PTS di Indonesia, hampir tidak pernah lagi mendapat bantuan dari pemerintah.

Dalam laporan statistik, penyandang gelar doktor (S3) di Indonesia sangat rendah. Dari satu juta penduduknya, yang bergelar S3 (diraih secara prosedur) hanya 65 orang. Amerika dari satu juta penduduknya, 6.500 orang bergelar S3, Israel 16.500, Perancis 5000, German 4.000, India 1.300 orang. “Jika Indonesia ingin menyamai India, harus bekerja 20 kali lipat lagi”, katanya.

Meski demikian, dia tetap optimis mutu pendidikan Indonesia masih bisa ditingkatkan, asalkan pemerintah berkenan. Tergantung kepada kemauan pemerintah.

Memang, tugas pemerintah tidak hanya memikirkan pendidikan, tetapi forsinya jangan sampai dikorbankan karena bidang lain. Investasi SDM lewat jalur pendidikan masih sangat dibutuhkan bangsa ini dalam rangka mengejar ketertinggalannya. Terjadinya kesenjangan di Indonesia karena pendidikan tidak bermutu dan berkembang.

Menurutnya, pendidikan bermutu mampu mengatasi kesenjangan. Contohnya, Korea Selatan. Negara ini memberikan prioritas untuk majukan pendidikan. Pengadaan sandang, pangan dan papan perlu tapi pembangunan pendidikan jangan sampai dianaktirikan. Kemajuan sebuah negara sangat ditentukan tingkat pendidikan sumber daya manusianya.

“Mengedepankan bidang pendidikan sangat tepat”, ujar tokoh nasional yang selalu berpenampilan sederhana itu.

Memang ada konsekuensinya jika pendidikan berkembang melebihi sektor lainnya. Jika dalam suatu negara, masyarakatnya memiliki pengetahuan tinggi tapi nganggur sangat berpotensi untuk ribut-ribut seperti di Korea.

Banyak pihak mengatakan kemajuan pendidikan di Korea justru dipergunakan untuk keributan. Tetapi setelah bosan bertikai, kemudian pandangan mereka pun berubah. Sebab, masyarakatnya yang terdidik sama-sama berpikir menciptakan kegiatan untuk memakmurkan masyarakatnya. Korea berkembang dan maju.

Contoh lainnya, Malaysia yang pada tahun 1970-an, masih mengimpor tenaga pengajar dari Indonesia. Kini, pendidikan di Malaysia jauh di atas Indonesia. Mengapa? Pemerintahnya memberikan perhatian yang sangat serius. Tidak seperti di Indonesia, pendidikan kurang diperhatikan. “Di masa lalu pemerintah terkesan ragu membangun sektor pendidikan ini”, ujar Nurcholish yang mendapat gelar doktor dari Universitas Chicago, Illinois, Amerika tahun 1984. Dia berharap, di masa mendatang pemerintah dapat memprioritaskan pembangunan pendidikan.

Kegelisahan akan pembangunan pendidikan yang berjalan tidak sebagaimana mestinya itu membuatnya berinisiatif mendirikan Universitas Paramadina tahun 1998. Kampus ini dicanangkan sebagai ladang persamaian kader manusia baru. Paramadina dengan bangga menyambut calon mahasiswa yang mau belajar dan menyediakan diri menghadapi tantangan. Obsesinya, mencetak manusia-manusia baru yang meresapi makna beragama, menguasai ilmu dan teknologi, mengedepankan etos kewirausahaan.

Perhatiannya terhadap masalah pendidikan membuktikan bahwa ternyata Cak Nur bukan sekadar ikon pembaruan pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia. Ia juga seorang pemikir dan pelaku di bidang pendidikan. Gagasan tentang pluralisme telah menempatkannya sebagai intelektual muslim terdepan. Terlebih di saat Indonesia sedang terjerumus di dalam berbagai kemorosotan dan ancaman disintegrasi bangsa. *** e-ti, Hatorangan dari berbagai sumber.

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: