Kekerasan di IPDN Akibat Kekeliruan Pemahaman Tentang Disiplin [Agama dan Pendidikan]

Kekerasan di IPDN Akibat Kekeliruan Pemahaman Tentang Disiplin

Jakarta, Pelita

Kekerasan di lingkungan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) kembali merebak, setelah kematian tukang ojek, Wendi Budiman, warga Jatinangor, Bandung yang diduga dilakukan beberapa praja IPDN. Kekerasan di IPDN ini akibat kekeliruan pemahaman tentang disiplin, tutur Utomo Dananjaya.

Pakar pendidikan dari Universitas Paramadina Utomo Dananjaya mengatakan kepada Pelita di Jakarta, kemarin, menanggapi kasus kekerasan yang dilakukan beberapa praja IPDN terhadap Wendi Budiman, Minggu (22/7).

Menurut Utomo, kasus kematian Wendi Budiman yang diduga dilakukan oleh mahasiswa IPDN adalah bukti gambaran yang sangat jelas bahwa kekerasan disana sudah menjadi budaya dan ironisnya budaya kekerasan tidak hanya dilakukan dilingkungan IPDN tetapi ditonjolkan pula terhadap masyarakat. Kekerasan di IPDN sudah membuktikan budaya mereka dan sistem yang mengakar, katanya.

Kalau budaya kekerasan yang diterapkan di lingkungan militer masih mempunyai batasan dan mengenal kode etik, dimana seorang tentara yang diajarkan tembak menembak diajarkan pula untuk tidak melukai warga sipil. Hal ini sangat berbeda dengan apa yang terjadi di IPDN sebagai warga sipil yang melakukan kekerasan ala militeristik yang tidak mengenal kode etik, sehingga mereka bisa melukai warga diluar IPDN sebagaimana yang dialami Wendi Budiman.

Dia mengatakan kekerasan yang selama ini terjadi di IPDN kemungkinan besar adalah bagian dari budaya kelas bangsawan, karena konon dahulu sekolah kedinasan IPDN pada masa zaman Belanda banyak di ikuti kelas bangsawan yang beroerentasi pada feodalisme tanpa mengenal kode etik. Selain itu dirinya juga meragukan kekerasan di IPDN bisa diakhiri apabila sistem yang dibangun tidak diperbaiki. Sampai kapanpun IPDN tidak akan kapok dengan kasus kekerasan kalau tidak ada perubahan total terhadap sistem pendidikan disana, tandasnya.

Selama ini, lanjutnya, IPDN telah menerapkan pemahaman yang salah tentang disiplin yang selalu dilakukan dengan cara kekerasan.

Penegakan disiplin tidak harus dengan cara kekerasan, karena sebagai lembaga pendidikan kedinasan penegakan disiplin harus dilakukan dengan cara yang profesional yang selalu berpegang teguh pada etika yang ada.

Saya menilai selama ini mereka melakukan kekeliruan tentang disiplin melalui cara kekerasan, karena penegakan dispilin dengan cara kekerasan yang dilakukan mereka tidak dibekali pemahaman tentang teori disiplin, filsafat disiplin dan sejarah tentang disiplin, ungkapnya. Karena penegakan disiplin harus disesuaikan dengan norma dan etika bukan dengan cara kekerasan.

Selain itu dirinya juga tidak bisa menerima alasan apapun tentang kekerasan yang dilakukan praja IPDN terhadap Wendi Budiman yang dikaitkan dengan pengaruh psikologi mereka yang tidak menentu akan nasib IPDN apakah akan dibubarkan atau tidak. Sangat tidak dibenarkan alasan tersebut, karena sesuatu masalah harus disampaikan dengan cara yang bijak tidak dengan melampiaskan kemarahan kepada masyarakat, tuturnya.

Ketika ditanya, bagaimana kedepan menyikapi IPDN, Utomo Dananjaya mengatakan langkah yang harus dilakukan untuk melakukan pembaruan terhadap IPDN adalah melaksanakan apa yang ditawarkan oleh tim evaluasi IPDN pimpinan Ryas Rosyid.

Di antara opsi yang ditawarkan tim evaluasi adalah membubarkan IPDN pusat yang berada di Jatinangor yang kemudian membentuk IPDN di daerah, kedua menggabungkan IPDN dengan lembaga pendidikan tinggi lainnya atau universitas yang mempunyai disiplin ilmu pemerintahan dan membentuk IPDN menjadi sekolah profesi yang hanya diperuntukkan bagi strata S-1 sesuai UU Sitem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).

Mengenai jaminan opsi tersebut bisa menghilangkan tindakan kekerasan, dia mengatakan yang terpenting adalah dijalankan terlebih dahulu karena sudah banyak biaya dikeluarkan untuk memperbaiki IPDN. Karena dalam perjalanan perubahan tersebut akan selalu dipantau dan dievaluasi.

Sementara praktisi pendidikan dari UIN Jakarta, Dr Murodi menilai kasus yang menimpa Wendi Budiman yang melibatkan praja IPDN harus dilihat secara kasus perkasus untuk mencari tahu lebih dalam informasi tersebut. Karena bagaimanapun kasus Wendi adalah tindakan kriminal murni diluar kampus.

Dirinya pun menjelaskan kekerasan yang dilakukan beberapa praja IPDN terhadap masyarakat diluar kampus telah membuktikan adanya ketidak harmonisan antara IPDN dengan masyarakat dan tentunya akan menambah buruk citra IPDN di masyarakat. Kasus ini pun dikatakannya juga bagian dari efek penerapan sistem militeristik yang terkesan akan kebal hukum, sehingga berani melukai masyarakat.

Menurut Murodi, tidak menjadi alasan yang dibenarkan bahwa kekerasan yang dilakukan praja IPDN terhadap Wendi selalu dikaitkan karena faktor psikologi mereka akibat tekanan dari luar untuk membubarkan IPDN. Mungkin ada keterkaitan kekerasan yang dilakukan praja IPDN dengan pengaruh psikologi mereka, akan tetapi sangat tidak dibenarkan kelakuan mereka dengan melampiaskan kepada masyarakat. Mestinya mereka bisa dilampiaskan dengan cara yang elegan, seperti diskusi sebagai akademisi, paparnya. (cr-9)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: