Konstitusi Madinah

Untuk mengawali pembicaraan ini, mungkin akan lebih baik kalau kita mulai dengan pembahasan masalah nama. Sebetulnya, yang menyebut Konstitusi Madinah adalah para orientalis. Sebab, dalam pandangan mereka, dokumen itu mirip dengan konstitusi dan menjadi dasar pendirian kota Madinah, yang dikepalai oleh Nabi Muhammad.

Madinah adalah sebuah kota yang berada kurang lebih 400 km sebelah Utara Mekah, dulu bernama Yathrip. Dalam catatan orang Yunani, kota Madinah disebut Yesropa. Tentang nama Yathrip, atau Yesropa, saya tidak tahu persis bagaimana sejarahnya. Ketidaktahuan ini sama seperti orang Yunani mengetahui tentang Mekah tidak sebagai Mekah, tetapi sebagai Makaroba atau Makaroba, yang ternyata juga berasal dari bahasa Arab Makrabah, artinya tempat untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Kata tersebut satu akar dengan kata qur’ban, kurban, karib, sahabat karib, dan sebagainya. Semuanya mempunyai pengertian “dekat”. Kata Yathrip sendiri tidak bisa ditafsir. Namun setelah Nabi pindah ke kota ini namanya diubah menjadi Madinah, lengkapnya Madinatunnabik.

Kata “Madinah” artinya kota. Secara etimologis bisa ditelusuri, bahwa Madinah berarti tempat peradaban. Karena itu, pengertian Madinah mirip sekali dengan pengertian polis dalam bahasa Yunani. Kalau Constantin mendirikan kota dan dinamakan Constantinopolis, Constantinopel, maka seandainya Nabi Muhammad itu seorang Yunani, beliau akan mewariskan sebuah nama profetopolis, kota Nabi.

Kata polis kemudian diversifikasi ke berbagai istilah seperti, politik, politbiro dan sebagainya, sedangkan kata Madinah diversifikasi menjadi madanniah, yang berarti peradaban, sepadan dengan urbanism atau urbanity. Tokyo University pernah menyelenggarakan seminar tentang Islam and Urbanism, mengambil tema al-Islam wa al-Madiniah.

Para orientalis atau sarjana Barat mengatakan Islam itu lebih banyak merupakan urban fenomenal, merupakan suatu gejala urban. Oleh karena itu tekanan ekonominya lebih banyak kepada ekonomi dagang, yang ternyata cocok dengan deskripsi mengenai siapa Nabi. Nabi membuat deklarasi, yaitu mengubah nama Yathrip menjadi Madinah, karena Nabi ingin menciptakan sebuah masyarakat yang beradab (Civil Society). Dalam bahasa Arab sipil= madani, hukum sipil= kanun madani. Kanun berasal dari bahasa Yunani, mirip bahasa Arab kanon. Oleh karena itu kata Madina juga mengandung pengertian Civil Society.

Civil Society yang dimaksud tidak dalam arti Non-Government-Organization (NGO) atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), tetapi Civil Society sebagai suatu masyarakat yang di situ ada the bond of civility.1

Seperti kita ketahui banyak konsep-konsep asing yang dibentuk oleh lingkungan fisik, dan lain-lain. Misalnya, kata lain peradaban dalam bahasa Arab hadhoroh, hadhorotun artinya pola kehidupan yang menetap di suatu tempat. Kalau diasosiasikan dengan bahasa Indonesia yang meminjam bahasa Arab hadir; kata hadhoroh satu akar kata dengan hadir. Hadhoroh dalam bahasa Arab mempunyai makna semantik sebagai suatu peradaban, karena itu kemudian dikontraskan dengan badawah. Dari kata badawah kemudian lahir kata badui, badawi, baduwin dan sebagainya, yaitu pola kebudayaan nomad.

Yang bisa menciptakan peradaban dan pola kehidupan yang benar adalah pola kehidupan yang menetap. Itulah sebabnya kenapa orang kota disebut ahlul hadhor, ahlun, ahl karena the people of al-hadhor, yang menetap di suatu tempat. Sebaliknya, orang nomad ialah orang ahlul badawah, badui. Di Jawa Barat, tepatnya di Cibeo, ada satu suku yang namanya Badui. Nama itu bukan berasal dari bahasa mereka sendiri, tetapi diberikan oleh orang Serang yang sudah masuk Islam, artinya orang kampung, suku, dengan sedikit nada gujaratis.

Bahasa Semit mengenal perpindahan suku-suku kata yang membuat sedikit berubah artinya, tetapi pada dasarnya sama. Misalnya kata amal dan ilmu. Kedua kata itu mempunyai akar kata yang sama, untuk amal: ain, mim, dan lam, sedangkan ilmu: ain, lam dan mim, para ulama yang ahli bahasa Arab mengatakan, bahwa amal dan ilmu tidak boleh dipisahkan. Ilmu harus diamalkan, dan amal harus berdasarkan pada ilmu. Hal itu sangat konvensional di kalangan para ulama pesantren. Begitu juga arab: ain, ro, dan ba, dan aroba. Aroba artinya menyeberang. Kata tersebut ada yang sudah dipinjam dan menjadi Bahasa Indonesia yaitu ibarat/tamsil, pengungkapan sesuatu secara simbolis, sering juga disebut kiasan atau peribahasa, misalnya `maksud hati memeluk gunung’, di sini yang dimaksud tentu bukan memeluk gunung yang sebenarnya.

Orang-orang Yahudi disebut juga orang Ibrani, maksudnya orang-orang yang menyeberang, yang berkelana ke mana-mana. Kata ibrani satu akar kata dengan hidro. Timbul pertanyaan, siapa nama sebenarnya Ibrahim, jangan-jangan Ibrahim hanya gelar orang yang menyeberang dari Khaldea ke Mesopotamia Utara, ke Haran kemudian belok ke Selatan ke Kanaan. Sebab kalau benar yang dipakai kata Arab, mempunyai arti orang Arab, akan tetapi ternyata kata yang dipakai lebih khusus arabi, artinya orang nomad.

Firman Tuhan dalam Alquran menyebutkan bahwa Alquran sendiri lebih positif terhadap orang-orang yang tinggal di kota daripada orang-orang yang tinggal di desa. Kalau boleh disebut bias, biasnya lebih kepada orang kota daripada orang-orang desa. (Yang disebut kota bukan seperti kota dan desa di Jawa, tetapi suatu emplasement di padang pasir). Kenapa? Karena banyak orang Indonesia termasuk para mubaligh telah salah menerjemahkannya, di sana dikatakan “orang-orang Arab itu lebih kafir, lebih munafik dan lebih sulit mengikuti aturan.” Terjemahan dengan menggunakan kata arab inilah yang salah, arab sendiri berarti berpindah-pindah.

Mereka menerjemahkan `orang-orang Arab’, sedangkan yang dimaksud adalah orang-orang Badui, yaitu orang-orang yang pola hidupnya nomad. Orang-orang Badui itu lebih munafik dan lebih kafir, artinya potensinya untuk menolak kebenaran, lebih besar daripada orang-orang kota, dan lebih sulit untuk mengikuti aturan-aturan Tuhan, lebih sulit diatur. Kalau kita melihat film Lawrence of Arabia, memperlihatkan bagaimana jalannya diskusi orang Arab. Orang Arab sangat egaliter, sehingga mudah sekali terjadi “clash”. Kalau orang-orang di parlemen Korea Selatan hantam-hantaman bangku, maka orang-orang Arab tusuk-tusukan pedang. Jangan heran kalau khalifah-khalifah Islam banyak yang mati terbunuh, karena egalitariannya begitu rupa. Mereka tidak mengenal sistem body guard.

Selanjutnya, mengapa istilah madinah dipergunakan oleh Nabi, kota madinatunnabi, profetopolis. Pertama, begitu tiba di Madinah, Nabi mencoba memberikan dasar bagi the bond of civility. Itulah Konstitusi Madinah. Dilihat secara demokratis kota Madinah terdiri dari bermacam-macam suku kebanyakan Yahudi, maka orang Yahudi menjadi elemen yang sangat penting di situ. Dalam Konstitusi mereka sebagai satu umat dengan orang-orang yang beriman, di samping itu ada orang-orang Arab yang belum seluruhnya masuk Islam, seperti Bani Aus. Mereka bersama-sama berada di dalam the bond of civility, dalam bahasa Arab disebut Mikatul Madinah (Perjanjian Madinah).

Tentu saja, terdapat banyak sekali tafsiran sekitar Mikatul Madinah ini. Misalnya, ada sementara orientalis yang meragukan sincerity dari Nabi, artinya apakah benar bahwa dia menyatakan orang Yahudi dan bangsa yang lain itu sebagai bagian dari the bond of civility tersebut. Orang Islam membenarkan bahwa itu memang sudah didesain oleh Nabi secara sadar. Tetapi, bagi kaum orientalis tetap menganggap bahwa itu hanya pragmatisme Nabi semata. Mengingat waktu itu Nabi belum berkuasa penuh, maka mengakui bahwa semua orang berhak menyertainya.

Kenyataan memperlihatkan, bahwa model Mikatul Madinah, model Konstitusi Madinah itu kemudian diterapkan di mana-mana oleh para sahabat Nabi, ketika terjadi ekspansi-ekspansi militer dan politik ke luar jazirah Arabia. Bagi orang Islam tidak ada masalah, karena itu sudah didesain oleh Nabi berdasarkan pada suatu prinsip yang menjadi bagian dari suatu keyakinan, bahwa orang-orang lain merupakan bagian dari komunitas yang sama. Memang, literatur-literatur baru pun mempertajam hal ini, misalnya Rashid Ridha. Dalam tafsir al-Manaar kemudian diambil alih oleh tokoh pembaruan Abdul Hamid Hakim dari Padang Panjang, Sumatera Barat, berdasarkan literatur tersebut, bahwa yang dimusuhi oleh Nabi (dulu) hanya orang musyrik Mekah. Orang musyrik Mekah bukan hanya dari segi keyakinan tidak bisa dibenarkan, tetapi juga karena mereka sendiri memusuhi Nabi. Lalu beliau pergi dari Mekah ke Madinah.

Karena hal itu kemudian muncul kontroversi, meskipun kontroversi yang sangat ringan, misalnya, apakah orang Islam masih tetap boleh kawin dengan orang non-Muslim, yang disebut Ahlul Kitab, orang-orang yang mempunyai Kitab Suci? Lebih dari sembilanpuluh persen ulama di seluruh dunia mengatakan boleh. Tetapi, di Indonesia ada sedikit masalah, barangkali karena hal-hal spesifik Indonesia. Menurut Abdul Hamid Hakim, yang tidak boleh kawin dengan orang non-muslim hanya orang musyrik Mekah, dan orang-orang lain yang bisa dianalogikan ke arah itu.

Oleh karena itu, ketika orang Islam berkenalan dengan orang Zoroaster, orang Majuzi (sebetulnya mereka sudah berkenalan), akan tetapi kontak langsung baru terjadi ketika Persia jatuh ke tangan orang Islam di zaman Umar bin Khatab. Dalam sebuah forum musyawarah di Madinah, lewat pidatonya Umar mengumumkan jatuhnya Persia, antara lain ia mengatakan: “Sekarang saya tidak tahu, bagaimana memperlakukan orang Zoroaster, orang Majuzi ini, mereka mau disebut musyrik seperti orang Mekah. Bukan! Disebut sebagai Ahlul Kitab (seperti orang-orang Yahudi dan Kristen) juga bukan! Jadi, saya tidak tahu. Lalu, bagaimana memperlakukannya”. Ternyata ALi bin Abi Tholib yang hadir waktu itu berdiri sambil mengangkat tangan, lalu berkata: “menurut Nabi, orang Majuzi adalah Ahlul Kitab”. Alquran sendiri tidak banyak membicarakan mengenai Majuzi, karena Majuzi itu konteksnya adalah suatu agama yang tidak semitik, agama Arya, agamanya orang-orang Iran. Seolah-olah dalam Alquran, titik berat pembicaraannya kepada Yahudi dan Kristen, karena itulah yang semitik, satu rumpun semitik, satu rumpun abrahamik.

Mikatul Madinah atau Konstitusi Madinah didasari oleh landasan-landasan kepercayaan yang sangat vital, dan sangat esensial. Sementara para orientalis mengatakan bahwa itu hanya sebagai pragmatisme Nabi dalam menghadapi masyarakat yang belum dikuasai semuanya. Mungkin seperti godaan komunal, karena memang perkembangan lebih lanjut agak sedikit menyimpang dari ketentuan, terutama ketika satu persatu dari tiga suku Yahudi berkhianat. Mula-mula, mereka mempunyai hak yang sama dalam pembelaan, dalam bahasa sekarang disebut bela negara, atau pertahanan negara.

Dalam beberapa peperangan, orang-orang Yahudi memang betul-betul ikutserta. Tetapi, karena berkhianat mereka lalu dihukum. Hukuman yang pertama, paling ringan, mereka dipersilahkan keluar dari Madinah dengan membawa segalanya, apa saja yang bisa mereka bawa. Hukuman kedua lebih berat, yaitu mereka dipersilahkan keluar dari Madinah tanpa membawa apa-apa. Ketiga, inilah yang menyebabkan sampai sekarang orang-orang Yahudi dendam sekali kepada orang Islam atau orang Arab. Mereka semuanya dibunuh.

Proses pembunuhannya agak sedikit rumit. Ketika terjadi perang ahzab2, musuh Nabi bersekutu dengan seluruh klan-klan Arabia, mereka bersama-sama menyerbu ke Madinah. Namun tidak berhasil, karena Nabi menerapkan taktik strategi yang sama sekali tidak dikenal oleh orang-orang Arab pada waktu itu, yaitu `menggali parit di sekitar kota Madinah’, atas saran orang Persia bernama Salman al-Farizi.3

Perang ini kemudian dikenal dengan perang zandak atau perang parit. Dengan cara itu orang-orang Arab yang tidak menduga sama sekali, terperangkap dan tidak berdaya. Kuda-kuda mereka terperosok ke dalam parit karena tidak bisa meloncati parit itu. Sementara orang-orang Islam dan orang-orang Yahudi bertahan dalam parit-parit. Di sana ada sektor Yahudi dan sektor Islam.

Ketika terjadi pengepungan Madinah yang berlangsung sampai berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, telah mengakibatkan semangat serta moral orang-orang Madinah dan orang Yahudi menurun, mereka tidak tahan lagi, lalu membuat persekongkolan gelap dengan orang kafir Mekah. Tanpa terduga terjadi mukjizat, datang badai besar, peperangan gagal dan akhirnya mereka pergi.

Akibat persekongkolan mereka jatuh korban dari orang-orang serdadu Islam bekas Yahudi anggota klan yang berkhianat. Mereka luka-luka. Hal itu dilaporkan kepada Nabi, demi melihat keadaan mereka seperti itu justru Nabi ingin memberi hukuman, namun lebih dulu Nabi meminta pendapat kepada semua orang yang hadir di sana, “apa yang harus kita lakukan kepada mereka ini?”. Orang-orang Yahudi yang mau dihukum itu mengusulkan, “saya minta toleransimu, wahai Muhammad, tunjuklah seorang anggota klan Yahudi yang sudah masuk Islam menjadi hakim bagi kami”.

Mereka berharap masih ada belas kasihan dari klan asalnya. Di luar dugaan, orang yang ditunjuk menjadi hakim justru sangat dendam, katanya “saya luka parah karena pengkhianatanmu, oleh karena itu saya tetapkan hukuman, semua harus dibunuh”. Akhirnya semua orang Yahudi dibunuh oleh sesamanya. Nabi Muhammad sendiri rupanya kurang memahami psikologis bekas Yahudi yang luka parah itu. Peristiwa ini kemudian menjadi catatan luar biasa bagi orang Yahudi sampai sekarang, mencerminkan hubungan paling buruk antara Islam dan Yahudi.

Peristiwa itu juga telah membuat orang Yahudi meninggalkan Madinah. Sehingga membuat Madinah jadi homogen, tidak lagi plural, sudah monolitik. Kita bisa berspekulasi atau membuat suatu hipotesa, seandainya tidak terjadi pengkhianatan, barangkali Madinah akan tetap plural. Sebab, semangat yang dituangkan dalam Konstitusi Madinah selalu dibawa ke mana-mana termasuk oleh Umar.

Dalam sejarah Islam tidak ada istilah penaklukan, yang ada istilah pembebasan. Fath, fatchusjam (pembebasan Syria), fatchuparis (pembebasan Persia), fatchumesr (pembebasan Mesir), tidak ada tahr. Ironisnya, tahr-tahr penaklukan itu dipakai oleh orang Islam terhadap orang Islam sendiri. Kairo, kairoh memperingati kemenangan klan Fatimiah terhadap klan lain, intern Islam. Oleh karena itu, orang Islam mengklaim bahwa mereka tidak melakukan penaklukan, melainkan pembebasan.

Salah satu reputasi Islam yang mula-mula `kebebasan beragama’, ke mana-mana mereka membawa slogan kebebasan beragama. Lalu, mengapa Mesir mudah sekali ditaklukkan oleh orang Arab yang jumlahnya lebih kecil, oleh Amr bin Asim? Karena, Amr bin Asim melaksanakan kebebasan beragama dengan sungguh. Mula-mula sekte-sekte Kristen di sana menderita, selalu ditindas oleh kaum Konstantinopel, karena doktrin mereka menyalahi doktrin resmi Konstantinopel.

Ketika Yerusalem berhasil dibebaskan, dan kemudian Saverius menyadari bahwa Yerusalem sangat penting bagi orang Islam, dia berpendapat, Yerusalem tidak akan diserahkan, kecuali kalau Umar, khalifah sendiri yang datang untuk menerima. Umar setuju lalu membuat perjanjian yang diberi nama Perjanjian Ailea. Mengapa disebut Ailea? Tak lain karena ekspansi dari Hadrian. Yerusalem mula-mula dihancurkan oleh Titus, dilanjutkan oleh Hadrian. Hadrian memutuskan, bahwa Yerusalem harus dikikis habis dari unsur-unsur keyahudian, dan dijadikan koloni rumah yang disebut Ailea Kapitolina. Orang Arab menyebutnya Ailea.

Nama Yerusalem memberi indikasi berasal dari bahasa-bahasa semitik. Tetapi juga memberi indikasi yang sama dengan darussalam, ur artinya dari kota, darusalam artinya kota perdamaian. Mekah juga disebut albaladul amin (kota yang aman). Idenya sama dengan Santiniketan di India. Orang Arab menamainya alkuds, tempat suci, bait al makdis, atau al bait al mukaddas. Referensinya dari Salomon Temple yang didirikan oleh Nabi Sulaiman.4

Ketika Umar datang untuk membebaskan Yerusalem, nama Ailea sedang populer di sana, itulah sebabnya perjanjian yang dibuat diberi nama Perjanjian Ailea, Mikatul Ailea.

Isinya mirip sekali dengan Perjanjian Madinah dengan klausul-klausul yang sangat spesifik. Misalnya, tidak boleh mengganggu gereja, tidak boleh mengganggu lingkungan gereja, salib, dan sebagainya. Orang-orang Kristen tetap berhak atas kebebasan beragama mereka.

Namun, ketika Saverius minta supaya orang Yahudi tidak diperbolehkan tinggal di Yerusalem, Umar (menurut sebuah riwayat) keberatan, “Mengapa orang Yahudi tidak boleh? Harus boleh!”. Lalu, Saverius mengusulkan, “kalau begitu jangan dicampur sama orang Kristen, karena orang Kristen tidak menyukai orang Yahudi.5

Dengan sangat terpaksa Umar mengkapling Yerusalem menjadi empat khai/kapling (sekarang masih ada) terdiri dari khai Nasrani/Kristen dua kapling, Armenia dan Orthodox (mereka tidak bisa dipersatukan); khai Yahudi; khai Muslim, kaplingnya paling besar karena orang Islam yang berkuasa. Sejak itu Yerusalem menjadi kota Multi Religion.

Ada peristiwa yang cukup dramatis, ketika Umar selesai menandatangani perjanjian di gereja Elizabeth/gereja kiamat (sampai sekarang masih berdiri), dia ingin sembahyang mengucap syukur kepada Tuhan, bertanya kepada Saverius, “di mana saya bisa sembahyang?” “Sembahyanglah di gereja ini”. Umar menolak, kemudian dia sembahyang di skep yaitu tangga bagian luar gedung gereja. Selesai sembahyang Umar menjelaskan “sekarang masih dalam suasana perang, kalau saya sembahyang di dalam gereja, tentara menganggap gereja ini sudah menjadi mesjid, nanti kalian kehilangan gereja ini.” Lalu, Umar berpesan kepada orang-orang Islam, “kalau di tempat saya sembahyang ini nanti akan diperingati dalam bentuk mesjid, kiranya mesjid itu tidak boleh besar, kecil saja, tidak boleh lebih tinggi daripada gereja, dan tidak boleh ada adzan, karena mengganggu gereja”. Itu semua direkam dalam kitab-kitab tarikh.6

Bagaimana semangat Konstitusi Madinah mempunyai pengaruh begitu jauh, bisa dilihat bagaimana situasi seluruh Timur Tengah sampai sekarang tetap multy religion, multi religius, kecuali Arabia. Zaman Khalifah Umar, program yang paling banyak adalah ‘pembebasan’, ekspansi militer dan politik. Umar menghendaki supaya kompleks Mekah dan Madinah merupakan home base yang aman. Mula-mula orang-orang Kristen Arab dari Nadzran (pusat orang Kristen Arab), di sebelah Selatan Mekah berbatasan dengan Yaman oleh Umar diminta supaya pindah ke Iraq. Namun mereka keberatan, “Umar! Nabimu saja tidak berbuat begitu, mengapa kau lakukan itu”. Umar menjawab dengan permintaan maaf, “kami memerlukan home base yang aman. Anda kami persilahkan pindah ke Iraq, di sana tanahnya jauh lebih subur dan jauh lebih luas”. Mereka kemudian pindah ke Iraq. Tarik Azis (Perdana Menterinya Saddam Husain) beragama Kristen juga keturunan dari Nadzran.

Di Timur Tengah seperti Siria, Libanon, Mesir dan sebagainya tetap multi religius. Di Yaman masih ada sinagog, di Oman, di Bahraen, di Hindustan, kecuali Arabia, terutama Hijaz yang diklaim menjadi suatu daerah inti dari Jazirah Arabia, sekarang Saudi Arabia. Saudi Arabia memang monolitik, hanya satu agama. Seorang orientalis bernama Bernard Louis, menulis dengan sedikit nakal tentang orang Islam dalam tesisnya yang diukur dengan pengalaman orang Yahudi “bahwa orang Islam atau masyarakat Islam itu semakin dekat ke pusatnya semakin toleran, semakin jauh semakin tidak toleran. Demikian juga secara historis, makin dekat ke masa keemasannya semakin toleran, semakin jauh dari masa keemasannya semakin tidak toleran”. Terkecuali Spanyol, selain jauh dari pusat pemerintahan Islam, masyarakatnya memang sangat toleran.

Membaca uraian di atas, timbul pertanyaan mengapa tidak mudah bagi orang Islam di Indonesia untuk mengucapkan “Selamat Hari Natal”? Sementara orang Islam di Arabia, di Timur Tengah mudah sekali?7

Sebetulnya, negeri-negeri Islam yang sudah mapan jauh lebih let’terlijk, menurut aturan yang ada. Artinya, lebih plural daripada Indonesia. Gangguan terhadap pluralisme di Timur Tengah disebabkan oleh kolonialis. Misalnya Libanon. Perancis datang ke Libanon mengumpulkan orang-orang Kristen yang ada di gunung-gunung, dikirim ke Paris untuk dididik, dan sebagainya. Kemudian setelah kembali ke Libanon, mereka menjadi elite, itulah awal dijadinya konflik. Begitu juga di Mesir, di Aljazair dan negara-negara lainnya. Ketika Aljazair merebut kemerdekaan atas nama nasionalisme Aljazair, tetapi dipimpim orang Pupun, orang yang berbahasa Perancis, rakyatnya memberontak. Merasa sebagai orang Arab, rakyat tidak bisa menerima, oleh karenanya konflik itu berlarut-larut sampai sekarang. Berbeda dengan Tunis, di sana relatif tidak ada persoalan, karena pemerintahnya berbahasa Arab.

Skeptisisme kaum orientalis terhadap Konstitusi Madinah sebenarnya tidak beralasan. Memang tidak hanya itu yang diragukan atau diskeptiskan oleh kaum orientalis. Misalnya ketika Nabi sembahyang di Madinah menghadap ke Yerusalem, tidak menghadap ke Mekah, mereka lalu menafsirkannya sebagai pragmatisme Nabi untuk “to invite support” dari komunitas Yahudi di Madinah. Maka, ketika orang Yahudi tidak lagi mensuport Muhammad, Muhammad mengalihkan kiblatnya ke Mekah, that simple. Akibatnya orang Islam tidak menyukai kaum orientalis, karena sering membuat indikasi-indikasi seperti itu. Sebetulnya, di Mekah pun Nabi kalau sembahyang selalu menghadap ke Yerusalem, mengambil posisi sebelah Selatan Ka’bah, menghadap Ka’bah sekaligus ke Yerusalem.

Beliau sangat resah ketika mau sembahyang di mesjid yang terletak arah Selatan dari pusat kota Madinah, mengingat bila menghadap ke Yerusalem berarti menyingkur (membelakangi) Mekah, beliau ragu-ragu melakukannya. Secara teologis orang Islam percaya, bahwa Mekah lebih tua daripada Yerusalem, Mekah diberikan oleh Nabi Ibrahim + 2000 tahun SM, sebelum Yerusalem dijadikan kota suci oleh Nabi Daud yang memilih bukit Sion untuk membangun istananya. Sedangkan Nabi Sulaiman menganggap bukit Moria, sebuah batu karang besar, sebagai tempat paling suci, karena di situ selain dibangun istana, juga didirikan Tabernakel, yaitu kemah besar tempat pertemuan orang-orang Yahudi di tengah padang pasir, yang kemudian dikenal dengan nama “Salomon Temple” dengan the Holly of holis tempat menyimpan kotak suci yang berisi ‘sepuluh perjanjian’/Dasa Titah, tabot (bahasa Ibrani), yang diterima oleh Musa di atas lempengan-lempengan batu lalu disimpan dalam sebuah kotak khas Mesir Kuno agar bisa dibawa ke mana-mana.

Mengapa Musa menganggap penting dan mau melakukan semuanya itu, utamanya untuk mengingatkan orang Yahudi yang masih mewarisi mentalitas budak yang waktu itu cara hidupnya masih berpindah-pindah dengan satu tujuan yaitu apabila mereka sembahyang selalu menghadap tabot. Sejak itulah tabot menjadi kiblat bagi orang Yahudi. Sama seperti orang Islam kalau sembahyang menghadap Ka’bah yang bentuknya juga mirip kotak.

Lalu, mengapa Nabi enggan menghadap ke Mekah, waktu itu Mekah dipenuhi berhala. Sementara, orang Yahudi lebih murni monotheismenya, oleh karena itu, daripada menghadap kepada orang Yahudi lebih baik menghadap ke Yerusalem. Dalam sebahyang dhuhur (empat rekaat) Nabi berdoa memohon petunjuk Tuhan, “Ya Tuhan izinkanlah aku pindah kiblat, biar tidak lagi ke Yerusalem, tetapi ke Mekah”. Selesai dua rekaat pertama ketika masih menghadap ke Yerusalem, Tuhan berfirman agar pindah kiblat menghadap ke Mekah. Di situlah dalam satu sembahyang Nabi menghadap dua kiblat. Mesjid itu kemudian disebut mesjid dua kiblat. Bagi umat Islam yang pergi ke Madinah selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi mesjid ini dan bersembahyang, mula-mula menghadap ke Yerusalem selanjutnya menghadap ke Mekah.

Sebagai orang yang setia meneruskan semangat Konstitusi Madinah, setelah menandatangani Perjanjian Ailea, dan sudah selesai sembahyang, Umar menanyakan di mana bekas tempat Salomon Temple. Saverius menunjuk tempat yang bagus. Namun Umar tidak percaya. Dengan diliputi perasaan takut, terpaksa Umar diantar ke puncak bukit Moria yang sudah menjadi velbak (tempat pembuangan sampah). Sumber-sumber Barat juga menulis demikian.

Mengapa tempat the holy of holiness menjadi velbak? Ini karena ulah orang Kristen sendiri. Helena, Ibunya Konstantin pergi ke Yerusalem mencaritahu jejak Yesus yang sudah tidak ada sama sekali. Dari berita yang dipercaya secara turun menurun, ditunjuklah di mana tempat Salib Yesus berada. Helena pun memerintahkan untuk menggali, dan ternyata salib itu masih ada. Ia bertanya, “siapa yang membuang salib Yesus ke tempat seperti ini?” “Orang Yahudi”, jawab orang-orang yang ada di situ. Kalau begitu mulai sekarang tempat yang paling suci bagi orang Yahudi ini harus dijadikan tempat membuang sampah! Sejak itu the holy of holiness pun menjadi velbak. Untuk memperingati tempat itu kemudian dibangun sebuah gereja yang dikenal dengan nama sappy church, dalam bahasa Arab disebut gereja kiamat.8

Hampir tidak percaya apa yang dilihatnya, Umar menjadi sangat kecewa, dan marah kepada Patriak, katanya “bukan begini sikap seorang pemimpin agama, ini adalah tempat suci kita, kamulah yang pertama kali harus membersihkan”, sambil menunjuk bagian yang paling kotor, lalu memerintahkan seluruh serdadunya untuk kerja bakti. Setelah tempat itu bersih maka kelihatanlah the rock, batu besar, yang dipercayai oleh orang-orang Yahudi sebagai tempat Ibrahim menyembelih anaknya.

Salomon Temple dihancurkan oleh Nebukadnezar, kira-kira 700 tahun SM. Dibangun kembali oleh Herot Yang Agung, kurang lebih 30-an tahun sebelum Isa Almasih (sebelum Yesus diutus).

Alquran menulis, bahwa Nabi Isa mengutuk bangunan mewah yang didirikan oleh Herot, dan kutukan itu diwujudkan dalam tindakan Titus untuk menghancurkan sama sekali Yerusalem dan the second temple, temple yang kedua. Karena haikal atau temple atau mesjid atau kanisah, keneset ini hanya bentuk fisiknya saja yang hebat, tetapi moral orang Yahudi sudah rusak. Meskipun di dalam mesjid atau di dalam temple sebagai tempat ibadah, namun di luar banyak praktik lintah darat. Nabi Isa marah lalu merobohkan bangku-bangku lintah darat itu. Bangku roboh dalam bahasa latin bangkaruta, bangkrut.

Di zaman Islam tidak ada temple. Sedang temple yang ada berubah menjadi velbak sampai datang Umar memerintahkan untuk dibersihkan. Di sana ia ditemani seorang Muslim, dulunya Yahudi yang berbahasa Arab, Kaab bin Aldar. Ketika ingin sembahyang Umar bertanya “Hai Kaab, di mana kita sembahyang?” Kaab yang masih menyimpan bias keyahudiannya, menunjuk arah ke sebelah Utara batu besar, berarti sembahyang menghadap batu besar seperti orang Yahudi, sekaligus menghadap ke Mekah. Ternyata Umar marah sekali. “Kamu masih membawa-bawa keyahudianmu, kita tidak sembahyang di sana, tetapi di sini sebelah Selatan batu besar, menghadap Mekah, membelakangi batu besar.” Di sinilah kemudian dibangun al-Walid bin Abul Malik, mesjid Al-Aqsha. Umurnya kurang lebih seratusan tahun lebih tua dari pada Budha.

Sebelum itu, untuk memperingati kemenangan Islam dan keberhasilannya menguasai bukit Moria, maka di atas batu besar tadi didirikan (oleh Abdulmalik bin Marwan atau Bapaknya Al-Walid) bangunan monumental yang indah sekali, yang sekarang disebut sebagai the dome of the rok atau batu sahraf, dome itu kubah, rok sahra, jadi kubah untuk melindungi batu suci tadi, tempat ketiga paling suci Islam.

Menurut seorang orientalis yang lumayan, waktu Umar marah kepada Saverius karena tidak bisa menjaga tempat suci, konon, Saverius mengatakan “inilah yang sudah diramalkan Bapak-bapak dulu” dari ucapannya tersirat, bahwa Umar digambarkan sebagai dajal. Tetapi, ketika dilihat bahwa Umar dan orang Islam luar biasa mengagungkan bekas Salomon Temple, kelihatan tidak sinkron dan tidak simetris, antara tuduhan kepada Nabi Muhammad dan kepada Umar sebagai kekuatan antikris, juga ucapan dajal itu, kenyataannya umat Islam di mana-mana menghormati orang Kristen. Banyak buku tentang itu. Jadi bingung.

Sekarang baru ada apresiasi terhadap semuanya. Mengapa apresiasi itu begitu terlambat? Karena dalam program-program politiknya, umat Islam banyak sekali berhadapan dengan orang Kristen. Sementara orang Yahudi tidak punya entitas politik waktu itu, tidak punya negara, karenanya orang-orang Yahudi tidak menjadi persoalan, bukan faktor, bahkan kemudian diabsort, dihisap oleh umat Islam, menjadi bagian dari komunitas Islam terhadap agama Yahudi. Kalau kita baca buku-bukunya Calvin, Whitcher, dan sebagainya dikatakan, bahwa orang Yahudi itu setelah datangnya Islam mengalami islamisasi, demikian Bernard Louis antara lain menulis dalam bukunya The Jews of Islam.

Sebaliknya, orang Kristen karena mempunyai negara tidak bisa, namun terjadi konfrontasi-konfrontasi yang sebelumnya sekunder dalam arti politik dan sebagainya. Akhirnya mewarnai paham-paham keagamaan, sehingga meskipun dalam Alquran disebutkan bahwa yang paling sengit memusuhi orang Islam adalah orang Yahudi, tetapi kenyataannya orang Islam banyak tertuju kepada orang Kristen. Sampai dengan datangnya Israel. Sebelum Israel ada, tidak ada problem dengan orang Yahudi. Warga Yahudi menjadi warga kosmopolitnya negara-negara Islam. Mereka senang berpindah-pindah, banyak di antara mereka yang menjadi menteri, menjadi dokternya Khalifah dan sebagainya. Misalnya Musa bin Maimun, Moses bin Maimonife menjadi dokter Khalifah Bani Fatimiah, di Cairo. Datangnya ke Kairo pun unik. Ketika di Spanyol terjadi kritis karena toleransi agama mulai rusak, ada sekelompok Islam yang rada eksentrik, memaksa Musa Bin Maimun masuk Islam, kalau tidak mau dibunuh. Musa bin Maimun pun masuk Islam tetapi pura-pura.

Sementara itu, ia tetap berusaha mencari jalan keluar: bagaimana supaya bisa keluar dari Spanyol, ke negeri-negeri Islam di Timur yang jauh lebih toleran. Ia mendapat kesempatan pergi ke Mesir, ternyata di sana ketahuan, karena ia menjadi Yahudi lagi. Seorang Islam mengenalinya, “orang ini waktu di Spanyol ‘Islam’, sekarang menjadi Yahudi, ini namanya murtad, harus dihukum’. Ia dibawa ke pengadilan di Mesir, dalam pembelaannya ia mengatakan, “di Spanyol saya Islam, tetapi Islam yang dipaksakan oleh mereka, bila menolak saya dibunuh. Setelah berhasil melarikan diri ke Mesir saya menjadi Yahudi lagi”. Hakim memutuskan, kalau begitu kamu tidak jadi dibunuh, karena kamu masuk Islam karena dipaksa.

Kembali ke Konstitusi Madinah, sebetulnya skeptisisme di kalangan orientalis mengenai sincerity Nabi tidak beralasan sama sekali. Kita mengetahui, bahwa semangat itu dibawa ke mana-mana. Di Damaskus, ada mesjid Bani Ummayah, Ummayah Mosque, hebat sekali dan bergaya gereja, dulunya bekas gereja, sebelumnya orang Islam numpang untuk sembahyang. Bahkan, ada periode yang mengatakan, bahwa bangunan itu dibagi dua, gereja dan mesjid. Tetapi karena orang Islam semakin banyak, sementara orang Kristen tetap sedikit, akhirnya secara sukarela dipersilahkan dibeli orang Islam. Jadilah mesjid Bani Umayyah. Dulu pergaulan begitu gampang. Sama dengan Umar, juga pernah dipersilahkan oleh Saverius sembahyang di gereja, sebetulnya kalau tidak karena pertimbangan militer, dia tidak keberatan. Karena itu noting wrong sembahyang di gereja. Sebagaimana sebaliknya. Orang Kristen sembahyang di mesjid sebetulnya tidak ada salahnya. Dan Nabi sendiri yang melakukan itu.

Nabi pernah menerima delegasi dari Nazran. Selesai perundingan, orang-orang Kristen minta izin kepada Nabi untuk meninggalkan mesjid karena akan sembahyang bersama, tetapi Nabi menghendaki agar mereka sembahyang di dalam mesjid saja, walaupun ada beberapa orang sahabat Nabi tidak setuju. Di zaman Nabi segala sesuatu di lakukan di mesjid. Peristiwa ini direkam dalam berbagai kitab, di antaranya kitab berbahasa Arab Ihdinashirotol mustakim, terutama kitab-kitab yang ditulis oleh orang-orang Madzab Hambali, antara lain Ibnu Taimiyah, Ibnu Taim Majoziah.

Demi melihat peristiwa itu dibuatlah konklusi, bahwa orang-orang non-Muslim dari Ahlul Kitab boleh masuk mesjid, bahkan kalau perlu boleh sembahyang di mesjid. Tetapi, karena perkembangan Islam sendiri menjadi bermacam-macam, dan kebetulan madzab yang ada di Indonesia adalah madzab Syafii, dalam bahasa arab ikhtiati, yaitu madzab yang tidak mau mengambil resiko salah, mereka cenderung rigit. Sementara itu orang Syiah, karena pahamnya tentang kemurnian turunan dan sebagainya, telanjur menganut doktrin, mereka harus menjaga diri dari kemungkinan mengalami kontaminasi kepercayaan. Mereka kurang toleran terhadap orang-orang non-Muslim, bahkan terhadap orang Islam sendiri yang bukan segolongan/sealiran. Kecuali orang-orang Hanafi, Hambali, Maliki, mereka bebas.

Semangat itu ternyata tetap berjalan sampai kini. Seperti dalam kunjungan kami bersama Pak Syafi’i ke Chicago, kami sembahyang di gereja. Sembahyang Jumat di gereja. Bahkan sudah ada orang Islam di Barat membeli gereja lalu diubah menjadi mesjid, misalnya bekas gereja Orthodox, sekarang menjadi pusat orang Islam kulit hitam di mana Muhammad Ali salah satu jamaahnya.

Begitulah kira-kira yang terjadi, akarnya tentu saja dalam Alquran, yang sangat positif terhadap agama lain. Sebetulnya di kalangan orang-orang Barat sendiri sudah mulai tumbuh semacam pengakuan, bahwa sebetulnya Islam menganut teologi inklusifistik. Misalnya, ada beberapa tempat yang disebutkan: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, para pengikut Nabi Muhammad, orang-orang Yahudi, orang-orang Sabean (= para penganut agama kuno di Timur Tengah), orang-orang Kristen dan siapa saja yang beriman kepada Tuhan yang Mahaesa dan hari kemudian, serta berbuat baik, mereka tidak perlu khawatir, tidak perlu takut, akan dapat pahala.

Bagi setiap orang yang menganut agama diwajibkan menganut ajaran agamanya, termasuk orang-orang Kristen dan orang-orang Yahudi. Ada sederetan Firman dalam Alquran yang menegaskan. “Hai orang Yahudi, laksanakan ajaranmu kalau tidak kamu kafir. Hai orang Kristen laksanakan ajaran agamamu kalau tidak kamu fasik” dan sebagainya. Bahkan ada janji dari Tuhan dalam Alquran, kalau saja orang Kristen dan Yahudi melaksanakan ajarannya dengan baik pasti mereka akan hidup bahagia dunia akhirat. Bila para pengikut itu beriman dan bertaqwa maka seluruh keburukannya dan seluruh dosanya dimaafkan dan masuk surga. Kalau mereka menegakkan ajaran Taurat untuk orang Yahudi, dan Injil untuk orang Kristen, serta ajaran-ajaran yang diturunkan dari Tuhan mereka, maka mereka pasti akan mendapat makanan dari ‘atas’ dan dari ‘salah satu kaki’ mereka. Itu ilustrasi mereka tentang kemakmuran. Sebagian dari mereka ialah orang-orang moderat yang mau menerima kebenaran dan menjalankan ajarannya sendiri, tetapi sebagian lagi menyimpang. Suatu keabsahan dan pengakuan akan kebenaran/keberadaan agama-agama tersebut.

Mengapa sekarang Firman-firman Tuhan tidak lagi menjadi pusat perhatian dari para teolog-teolog Muslim, dan tidak pernah dijabarkan sebagai garapan teologi yang ekstensif. (Ada orang Islam yang tidak suka dengan istilah teologi yang bisa berarti teori mengenai Tuhan, sedangkan Tuhan tidak bisa diteorikan, dalam agama Islam yang ada ilmu kalam). Karena Islam mantap terhadap dirinya selama beberapa ratus tahun, tidak ada persoalan. Oleh karena itu mereka tidak berelaborasi. Ketika mereka sudah mulai mundur, mereka tetap belum menyadari kalau mereka tidak pernah dielaborasi. Sedangkan yang dielaborasi hanyalah hal-hal yang menjadi point-pointnya saja, misalnya hukum.

Mengapa dalam Islam ilmu hukum yang utama, karena salah satu ciri Islam adalah dari segi ekspansi militer dan politik. Bisa dibayangkan orang Arab yang begitu sederhana, orang Yunani yang hanya mempunyai catatan sangat sedikit, tiba-tiba menguasai lautan yang terbentang mulai lautan Atlantik sampai tembok Cina. Jadi tantangan mereka yang pertama ialah, bagaimana cara mengatur masyarakat ketika mereka harus kembali kepada ajaran mereka, yaitu Islam, maka yang mereka kerjakan terlebih dahulu adalah ‘hukum’. Baru setelah itu muncul rasional teologi. Rasional yang dianggap kalam, karena mereka berhadapan dengan orang Yahudi, orang Kristen, orang-orang Sabean, orang-orang Majuzi, dan sebagainya. Lalu mereka mengembangkan suatu mekanisme pertahanan. Itulah mula-mula munculnya teologi sebagai apologia. Karya-karya apologetik.

Setelah itu orang Islam menjadi sangat mewah karena hampir seluruh kekayaan di dunia mengalir ke sana. Hal itu didukung oleh informasi diketemukannya dokumen oleh Lefrinston, yaitu daftar pembayaran zakat, pembayaran pajak tanah di kota Basrah, di zaman keemasan Islam. Walau pun Basrah yang waktu itu kecil, kekayaannya sama dengan Caledonia sekarang, luar biasa, karenanya hidup orang Islam waktu itu mewah sekali. Reaksi terhadap kemewahan ini kemudian muncullah Sufi, yang asal-usulnya adalah social protest. Lihat Biografi Rabi’ah al-Azhari’ah, seorang wanita pelopor kesufian, karena falsafahnya berkembang di kalangan umat Islam berbarengan dengan perkembangan Islam.

1) Istilah ini terpaksa dipakai, karena saya belum tahu persis padanan istilahnya dalam Bahasa Indonesia.

2) Perang ahzab artinya kurang lebih perang sekutu.

3) Mengapa Bung Karno mengusulkan nama Salman untuk masjid di ITB? Nama tersebut diambil dari Salman al-Farizi, teknikus Nabi berasal dari Parisi.

4) Di dalam Bible disebut Raja, King Solomon, King David. Tetapi, orang Islam menyebutnya Nabi Sulaiman dan Nabi Dawud.

5) Dari 7 anggota steering committee Architecturing world hanya saya yang bukan arsitek. Seorang Yahudi, Frank Carry, dari Los Angeles, seorang arsitek yang paling banyak mendapat penghargaan, bercerita, ketika masih kecil kalau pergi ke sekolah sering diejek oleh orang-orang Kristen, ‘kamu yang bunuh Yesus’, you kill Jesus, katanya. Lalu saya jawab “seharusnya kalian berterima kasih kepada saya”. Why? “Kalian selamat karena Yesus mati, saya yang membunuh”.

6) Terkesan ironis, waktu saya melihat mesjid di depan gereja kiamat, bangunannya besar, menaranya melebihi tinggi gereja. Ternyata mesjid itu dibangun oleh bangsa Turki ketika menguasai Yerusalem. Sedangkan mesjid yang asli, yang berasal dari Umar disembunyikan, dirahasiakan, ditutup, baru ditemukan tiga tahun yang lalu, berada di sebelah kanan mesjid yang baru.

Berbeda dengan ketika Yerusalem dikuasai bangsa Arab, masyaraktnya sangat terbuka, Baghdad merupakan pusat peradaban Islam yang luar biasa, namun mereka tetap menaati pesan Umar agar tidak membangun mesjid kecuali kecil saja, tidak boleh ada jamaah, tetapi sembahyang secara individual.

Namun tentara Mongolia menghancurkan Baghdad secara biadab, maka Baghdad pun jatuh dan hanacur tak tersissa. Khasanah kepustakaan ikut pula dihancurkan. Buku-buku dibuang ke sungai Tuslah, sampai iar sungai menjadi hitam karena warna tinta.

Tetapi lama kelamaan mereka menjadi Islam, dan menderita conflict complex lebih Islam daripada orang Arab sendiri, merekalah yang pertama kali melarang orang Kristen masuk ke Yerusalem, sampai terjadi perang salib.

7) Bulan Desember 1991 saya berada di Mesir, suasananya dalam suasana Natal. Restoran penuh dengan dekorasi natal disertai ucapan natal dalam bahasa Arab. Mungkin, karena orang Arab sudah menjadi Kristen sejak ratusan tahun sebelum Nabi (lebih dahulu daripada orang Inggris). Tetapi dibalik kaca tutup meja ada selebaran-selebaran yang mengajak setiap tamu yang datang untuk ikut bersyukur kepada Tuhan karena pemilik restoran baru pulang menunaikan ibadah haji.

8) Kiamat artinya resurrection, the church resurrection, orang-orang Kristen Arab meyakini bahwa di situlah Yesus dikubur dan naik ke langit, maka gereja itu disebut gereja kiamat yang artinya kebangkitan kembali. Sedangkan orang Arab Muslim mengatakan bukan gereja kiamat, tetapi gereja kumamah, artinya sampah.*** e-ti, dari Seminar Agama-Agama XV: Theologia religionum

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: