Mengenal Lebih Dekat Sosok dan Pemikiran Sang Guru Bangsa (Cak Nur)

Jakarta-JIE. “Komitmen kita untuk membangkitkan bangsa modern yaitu berlandaskan keadilan. Keadilan adalah adanya kesamaan hak-hak sebagai warga negara. Non-diskriminatif sebagai syarat demokrasi. Memandang semua orang harus sama dan harus mempercayai sesama anggota masyarakat”. Demikian petikan CD rekaman pidato Cak Nur (12 hari sebelum meninggal-red) dalam acara “Menghidupkan Kembali Komitmen Nasional”, yang diputar kembali pada pembukaan seminar nasional “Mengenal Lebih Dekat Sosok dan Pemikiran Sang Guru Bangsa (Nurcholis Madjid), Sabtu (01/10) pukul 13.00-17.00 Wib. di Aula Yayasan Wakaf Paramadina, Jakarta-Selatan.

Dalam pidato Cak Nur ditegaskan, masyarakat adil adalah terbuka dan tidak memaksakan kehendak kepada orang lain. Maka masyarakat demokrasi adalah kebebasan untuk mengemukakan pendapat sehingga menghasilkan masyarakat adil.

Masyarakat adil, demokratis dan terbuka adalah egalitarian, toleran dan semangat pluralisme, dan kita mengakui ada perbedaan. Perbedaan sebagai modal untuk demokrasi. Perbedaan tidak untuk menghapuskan kebersamaan, tapi perbedaan sebagai modal ke depan.

“Bagaimana ke depan untuk menumbuhkan diri sendiri? Kita dalam jangka panjang membutuhkan demokrasi yang sehat. Kita optimis dengan generasi muda yang mempunyai momen bagus. Dikalangan muda harus ada komitmen bersama untuk membangun bangsa yang modern dan demokratis. Dengan itu, saya lega dengan pertemuan ini”. Salam sejahtera bagi kita semua. Demikian petikan pidato Cak Nur ini.

Narasumber yang hadir dalam seminar nasional tersebut, diantaranya: Dr. Sayyed Mohsen Miri (Rektor Islamic College for Advanced Studies), Utomo Dananjaya MA (Pengurus Yayasan Wakaf Paramadina), Prof. Dr. Dawam Rahardjo (Cendekiawan Muslim), dan Gus Dur tidak dapat hadir, dikarenakan pada pukul 12.15 Wib. Gus Dur harus Check Up kesehatan. Tegas moderator, Ahmad Samanto.

Sayyed Mohsen Miri mengatakan, kita sebagai umat Islam telah kehilangan sosok Cak Nur yang telah mewarnai pemikiran di Indonesia. Beliau telah menyumbangkan buah pemikirannya untuk memecahkan permasalahan bangsa ini, seperti gagasan Islam modern yang menghargai nilai-nilai HAM dan toleransi dalam kehidupan berbangsa ini.

“Cak Nur lebih-lebih mampu menempatkan gagasan-gagasannya di atas pondasi yang kuat (spiritualitas) dan sesuai dengan kebutuhan modern. Sebagai bukti adalah berdirinya Islamic College for Advanced Studies di Paramadina ini”. Demikian tegas Rektor ICAS – Paramadina Jakarta ini.

Narasumber lainnya, Utomo Dananjaya, sahabat paling dekat Cak Nur, mengawali pembicaraannya dengan mengutip kata ‘bersyukur’. Menurutnya, bersyukur selalu menjadi kata kunci awal yang sering diungkapkan Cak Nur sebagai tokoh Bangsa dalam berbagai pembicaranya.

“Bersyukur dimaknai dalam tiga hal; pertama, bersyukur bahwa bangsa Indonesia mempunyai kesepakatan dasar negara dan politik adalah Pancasila. Kedua, bahasa Indonesia sebagai bahasa bangsa. Dan ketiga, kita hidup dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)”. Demikian tegas pengurus Yayasan Wakaf Paramadina ini.

Lanjutnya, sebagai dasar tanggungjawab Cak Nur atas wawasan kebangsaannya, beliau mampu memberikan tawaran-tawaran yang konstruktif dan produktif, yaitu menyumbangkan gagasan ‘Keislaman dan Keindonesiaan’ yang mempunyai orientasi kebangsaan sebagai wujud persatuan. Tandasnya.

Selain Mas’ut, panggilan akrab Utomo Dananjaya, hadir pula Dawam Rahardjo yang memetakan pemikiran Cak Nur secara umum. Dawam mengatakan, ada Cak Nur Muda dan Cak Nur Tua. Untuk membedakannya, bahwa Cak Nur Muda adalah Nastir Muda yang taat dan paham keagamannya secara mendalam, sedangkan Cak Nur Tua adalah ketika Cak Nur pasca pertama pulang dari Amerika menjadi liberal.

Namun dalam pandangan ini, Dawam memberikan catatan, bahwa Cak Nur memang pada masa mudanya (waktu jadi ketua PB-HMI) pernah menulis artikel yang cukup baik tentang “Islamisme” (sampai sekarang arsip dokumentasi ini belum ditemukan), tapi Cak Nur bukan fundamentalis, namun mengisi ruang kosong tentang wacana keislaman pasca tulisan Soekarno tentang “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme” yang sekarang jadi ruh dasar-dasar Pancasila.

“Jadi, Cak Nur sejak awal memiliki visi kebangsaan, sehingga tergambar dalam gagasan tentang modernisasi adalah rasionalisasi bukan westerenisasi. Dan dalam gagasan sekularisasi Cak Nur ingin menegaskan bahwa agama harus dipisahkan dari negara, karena kalau agama menjadi dasar negara akan terjadi absholutisme, seperti terjadi masa kelamnya Eropa, yang ada bukannya perdamaian tapi kekerasan dan pembunuhan. Demikian tegas Dawam.

Cak Nur lebih tertarik berbicara tentang keadilan sosial. Bagaimana Islam sebagai agama rahmatan lil alamin, yang mempunyai spirit perubahan dan keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan bahkan agama harus mempunyai efek terhadap masyarakat luas. Demikian ungkap cendekiawan muslim ini. [very/jie]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: