Paul Ricoeur

Filsafat pada hakikatnya adalah merupakan sebuah metode bagaimana seseorang mengenal akan hakikat tentang dirinya, dimana mengenal tentang diri, dan tau konkonsep serta arahnya maka kita akan mengerti bagaimana sebenarnya filsafat berguna dalam kehidupan nyata. Filsafat tidak memberikan sebuah metode yang bersifat tradisional, melaikan metode dialektes yang memaksa kesadaran kita untuk hadir dalam memahami akan diri dan realitas.

Realitas merupakan aspek real dalam kehidupan, dan tidak ada lagi yang rebih real kecuali diri mengenal akan dirinya sendiri dengan cara berfikir tentang dirinya – kogito ergo sum – ( Decrates ). Lain dengan itu, sebagian tradisi filsafat berkeyakinan bahwa sebuah realitas merupakan sebuah totalitas historical[1] (Hegel) dimana sebuah realitas memmpunyai sebuah hubungan interpersonal dengan apa yang ada diluar dirinya, baik itu situasi dan kondisi yang berlaku pada saat itu baik yang bersifat meteril (social, ekonomi& politik) maupun metafisik (psikologis, kesadaran, akal budi, atau intelek). Di lain pihak ada sebuah aliran yang hamper senada dengan yang disebuatkan sebelumnya, ia adalah fenomenologi. Mereka menamakan dirinya alairan fenomenologi. Alairan tersebuat menamakan dirinya demikian karena pemahaman yang mereka bangun adalah pemahaman yang berangkat dari kesadaran yang setiap saat bisa berhadapan dengan dalam kondisi atau fenomena yang melahirkan sebuah interpretasi. Ketika seseorang telah melakukan interpretasi maka dia memandang sesuatu tidak bersifat netral dan natural. Ada keberpihakan pada kondisi tersebut, dimana interpretasi yang dia lakukan merupakan interpretasi yang berdasar akan kepentingan logika. Kaum fhenomenologis memaknai akan fenomena adalah sebuah kondisi yang benar-benar baru kita alami, tentunya dengan kesadaran yang penuh akan diri. Fenomena tersebut berada tidak ada jauh dimana-mana tidak ada di disamping atau didepan, melainkan berada didepan kita sendiri. Mengapa demikian, karena ketika kita menempatkan diri kita sebagi sesuatu yang aktus akan keberadaan yang lain, maka kita akan dapat menilai sesuatu degan objektif tanpa ada campur tangan apapun, tanpa interpretasi yang didominasi oleh kepentingan logika. Berangkat dari hal tersebut maka kaum fhenomenologis berkeyakinan bahwa sebuah fenomen merupakan sebuah simbaol yang harus ditafsirkan dan dikuak makna dan maksudnya. Ketika kita hendak menguak makna tersebut, maka kita harus berada dalam posisi baru dan memandang secara total dengan intensonalitas yang melahirkan interpretasi yang benar-benar hadir dari rahim interpretasi kesadaran yang total.

Salah satu filosof yang pada awalnya beraliran eksistensialis adalah Paul Risoeur merupakan salah seorang tokoh filsafat yang meneruskan proyek fhenomenologi, akan tertapi pendekatan yang dia lakukan adalah pendekatan secara structural. Risoeur dalam merumuskan proyek fhenomenologinya tidak lrpas dari pengaruh Dhiltel yang kemudian direvisinya engan konsepnya tentang teks, Husserl disebut juga bapa fhenomenologi, Heidegger, dan Gadamer. Tokoh terakhir inilah yang sebenarnya tokoh yang sangat berpengaruh bagi Risoeur, sehingga konsep yang kemudian di tawarkan atau dia kemukakan adalah merupakan penjabaran secara mendetil dan praksis untuk filsafatnya Gadamer.

 

Riwayat Hidup

Paul Risoeur adalah seorang filsuf ternama yang hidup pada awal abad 19. dia dilahirkan di Valence, Paris Selatan, pada tanggal 27 Pebruari 1913[2]. Risoeur berasal dan besar dilingkungan Kristen Protestan yang saleh, yang terkenal sebagai seorang cendikia protestan yang terkemuka di Prancis. Ia dibesarkan di Rennes sebagai seorang anak yantim piatu. Di Lycee risoeur untuk pertama kalinya berkenalan dengan filsafat melalui R dalbiez yang mengapresiasi alairan pemikiran Thomistis.  selain karya-karyanya yang monumental, Ricoeur juga mengajar diberbagai perguruan tinggi di Perancis, dan dia memperoleh Licence de philosophie pada tahun 1933 dan aggregation de philosophie pada tahun 1935 di Sorbonne.

Selain kegiatan belajar mengajar dia juga seorang aktifis diberbagai lembaga akademis yang digelutinya, dan dia juga pernah mendapatkan penghargaan dari Hegel Award (Stuttgart), The Karl Jaspers Award (Heidegger),dan The Grand Prix de L’Academie u francais. Selain pertasi tersebut Risoeur juga pernah menjadi editor pada beberapa Jurnal dan Majalah Filsafat. Setelah mengajar di Colmar selama satu tahun dia dipanggil oleh Negara untuk wajib militer (antara 1937 – 1939). Pada saat mobilisasi, Risoeur masuk kedalam ketentaraan prancis dan menjadi tawanan perang hingga tanhun 1945. selama dia menringkuk di tahanan di Jerman, ia banyak mempelajari karya-karya Husserl, Heidegger dan Jaspers. Dan setelah perang ia kembali mengajar dan menjadi dosen filsafat di College Cevinol, yang merupakan pusat protestan international untuk pendidikan dan kebudayaan di Chambonsur-Lignon[3].

 

Latar brlakang pemikiran

“Hidup adalah interpretasi” demikianlah Nietzsche berkata. Bertolak dari kata tersebut Risoeur mengafirmasi dan mengatakan bahwa “filsafat itu adalah interpretasi dari interpretasi”[4], dengan kata yang diungkapkan oleh Risoeur tersebut ada dugaan bahwa arah pemikiran filsafatnya terarah kepada Hermeneutika –jika interpretasi merupakan bagian dari Hermeneutik-.  Risoeur berpendapat bahwa filsafat pada dasarnya adalah sebuah hermeneutic, yakni kupasan terhadap makna yang terselubung dalam teks yang terlihat mengandung sebuah makna. Setiap interpretasi adalah usaha untuk membuka makna yang terkandung dari lipatan-lipatan teks.

Teks, kata-kata atau makna-makna merupakan sebuah symbol yang  terkadang dianggap tidak begitu penting karma sifatnya tidak langsung sebab hal tersebut tidak dapat di dimengerti oleh yang lain kecuali dengan dirinya.  Jadi apa yang ingin di ungkapkan oleh Risoeur adalah interpretadi merupakan jalan menuju filsafat refleksi yang berdasarkan pada asumsi baha dengan dengan mengikuti petunjuk pikiran yang bersifat simbolik seseorang akan sampai pada pemahaman tentang Being yang lebih mendalam, senada dengan kata tersebut yseng disebutkan oleh tradisi sokrstes adalah “kenalilah dirinu sendiri” karma diri = symbol[5].  

Dengan konsep yang risoeur ungkapkan diatas, tampaknya dia ingin mengatakan bahwa ada kebutuhan laten dalam bahasa untuk mengungkapkan konsep-konsep melalui kata-kata, dan kebutuhan laten tersebut merupakan kebutuhan akan hermeneutic. Dalam konsep ini risoeur sependapat dengan gadamer yang mengtakan bahwa filsafat merupakan rumah dari bahasa dan sekaligus juga mengafirmasi konsep kebutuhan laten akan bahasa yaitu kebutuhan Laten Dassein[6]. Tidak hanya sampai disitu saja, ternyata Risoeur berpikiran jauh lag akan hal itu, sehingga dia berkat bahwa setiap kata adalah sebuah symbol. Sebagaimana bahasa yang digunakan oleh para sastrawan bahwa bahasa atau kata-kata yang digunakan oleh mereka mengandung banyak makna dan banyak maksud-maksud yang terlebubung dalam lipatan kata. Karna sangatlah wajar ia mengatakan bahwa ada belati dibalik jaket, atau ada hadiah yang menyenangkat di balik jaket. Dengan adanya interpretasi maka symbol akan menjadi kaya akan makna –multitafsir- dengan tidak mengurangi bahasa dan makna yang terkandung didalamnya sehingga symbol tersebut melampauinya atau kembali menjadi dirinya sendiri. Dengan demikian maka benarlah bahwa makan atau sesuatu tidak terletak di samping atau di belakangnya, akan tetapi berada tepat didepannya.

 

Kata dan Makna

Sebuah kata adalah sebuah symbol demikianlah singkatnya dari uraian diatas, sehingga kita tidak memiliki interpretasi bahwa sebuah bahasa atau symbol ini merupakan sebuah konsep yang jelimet yang harus didudun dalam otak yang kaku.  Bahasa dengan symbol keduanya memiliki sebuah unsure untuk menghadirkan sesuatu yang lain pada atau diluar dirinya. Oleh sebab itu kata pada dasarnya adalah bersifat konpensional dan tidak membawa makna sendiri secara langsung secara sendiri dan langsung pada si pendengar atau pembaca, secara tidak langsung seseorang yang menulis sebuah tulisan atau yang berbicara itu membentuk sebuah bentuk pola-pola makna yang tidak disadari, dan pola tersebut menggambarkan sebuah konteks sejarak dan kehidupan oaring tersebut sehingga menimbulkan sebuah interpretasi yang tidak mungkin dielakan lagi. Akan tetapi ketika kata trsebuat di letakkan dengan konteksnya dengan kondisi yang telah di setting ataupun tidak itu akan melahirkan sebuah gambaran awal untuk pengenalan tentang sesuatu. Maka dalam hal ini kata-kata memiliki ragam makna yang terselubung didalamnya sehingga ketika kata tersebut meluncur menjadi sebuah kata maka ini akan menjadi dirinya dan gambaran akan sesuatu hal tentang dirinya dan pada saat itu juga ia akan menjadi sebuah wacana. Wacana dapat menjadi self reference dan self reference bisa menjadi wacana karena ketika kata sudah terucap maka itu telah menjadi peristiwa atau fenomen. Ketika wacana telah menjadi fenomen maka disana terdapat tujuan psikologis, tujuan psikologis tidak akan ditemukan dimanapun kecuali pada diri wacana itu sendiri[7].

Dalam pernyataan-pernyataan yang bersifat psikologis, sebenarnya dia ingin mempertahankan klaim bahwa “Psikoanalisis adalah tipe Hermeneutik”, oleh sebab itu Risoeur menambahkan bahwa dalam sebuah wacana yang timbul menjadi sebuah peristiwa maka haltersebut tidak akan terlepas dari kepentingan ego atau dipengaruhi oleh suasana psikologis pada saat itu “Semantic of desire, Arti keinginan”[8].

Senada dengan gadamer bahwa ada sesuatu dibalik jaket yang dia kenakan, atau bahkan dia adalah penipu-ulung[9]. Risoeur mengatakan bahwa Hermeneutik harus berarah kepada “perjuangan melawan distansi cultural”, apa itu distansi cultural ? ialah bahwa si penafsir harus mengambil jarak supaya ia memiliki interpretasi dengan baik atau ketika dia mengambil jarak maka ia akan dapat mengkritik dengan baik[10], atau dalam pribahasa kita mengatakan bahwa gajah di pelupuk mata tidaklah kelihatan, akan tetapi bintang yang ada dilangin walaupu kecil sekalipun dapat sangat terlihat jelas. Dalam hal ini sebenarna para sastrawan kita dahulu telah membuat konsep filsafat tersendiri dimana ketika di selaraskan dengan konsep ini maka ketita sesuatu yang besar yang berada di dekat dengan kita atau menginternal dengan kita maka kita tidak akan mampu membuat interpretasi dan mengkritiknya dengan baik.

Dalam hal ini juga Risoeur mengafirmasi konsep yang diungkapkan oleh Heidegger, bahwa sebuah teks, fenomen, peristiwa, tradisi dan sejarah memiliki beberapa konsep tentang pemahaman, dengan meminjam kata dari gadamer bahwa seorang yang hendak bekerja tidak akan mungkin kerja dengan tangan kosong, pasti memiliki atau menggunakan sebuah alat atau instrumrn untuk membantunya. Demikian juga dengan apa yang di katakana husserl dengan fenomenologinya bahwa ketika menghadapi sebuah perintiwa atau fenomen maka kita harus menempatkan dirikita dengan sebuah kesadaran akan fenomen tersebuat bukan dengan interpretasi atau kesan-kesan yang ditimbulkan olehnya[11], sehingga kita tidak seperti apa yang dikatakan oleh gadamer sebagai pisau atau belati yang berada di balik sebuah jaket, atau dengan pribahasa kita adalah ada udang di balik batu.

Heidegger dalam konsepnya Verhabe (apa yang ia miliki/bawa) Vorsichet (apa yang ia lihat/ fenomen/peristiwa) dan yang terakhir adalah Vorgriff (apa konsep yang akan dia buat/interpretasi, afirmasi dan antisipasi)[12].

 

Hermeneutika dan lahan yang kosong

Kalaulah Hermeneutik hanya di artikan sebagai intrpretasi terhadap symbol-simbol, maka hermenetik menjadi sosok yang miskin yang telah direbut ruang bernafasnya sehingga semua terasa sesak. Oleh karena itu maka Risoeur memperluas dan melebarkan sayap ekspansi hermenetiknya terutama pada “wilayah Teks” sehingga hal t rsebut sangat mempengruhi dia dalam pendefinisian hermeneutic itu sendiri, seperti “ hermeneutic adalah teori pengoprasian pemahaman dalam hubungannya dengan interpretasi dan teks”. Sebuah teks akan memiliki makna yang berbeda ketika dihubungkan dengan konteks yang lainnya, sehingga akan membuat sebuah interpretasi dan makna menjadi kaya. Risoeur dalam hal ini menyebutkan polisemi[13].

Senada dengan Gadamer, risoeur menyatakan bahwa manusia pada dasarnya merupakan bahasa, sedangmeminjam istilahnya Gadamer“manusia adalah rumahnya bahasa”. dan bahsa sendiri merupakan syarat utama bagi semua pengalaman manusia. Bahasa adalah bidang dimana semua pengamatan filosofis saling memotong satu sama lainnya. Bahasa adalah tempat bertemunya analisa logika, fenomenologi, eksistensialisme, tefsir kiab suci hermenetika bahkan psikologi analisa, dan Bahasa dinyatkan dalam bentuk symbol.  Karna manusia itu sendiri adalah bahasa maka ketika sekumpulan manusia berkumpul atau masyarkat maka itu juga disebut dengan symbol. Dalamhal ini risoeur ingin menjelaskan bahwa sebenarnya sebuah teks itu mempunyai tempat diantara penjelasan stuktural dan pemahaman hermneutik yang berhadapan satu dengan yanglainnya, dimana krtika sebuah teks ditfsirkan maka semuanya tidak akan lepas dari situasi dan waktu teks itu berada-khusus-[14].


Teks yang Otonom

Pada dasarnya teks sendiri bersifat otonom unrtuk melakukan “dekontekstualisasi” (proses pembebasan diri dari konteks), baik dari sudut pandang psikologis maupun sosiologis, dan melakukan “rekontekstalisasi” (proses masuk kembali kedalam konteks) secara berbeda dalam tindakan membaca, sehingga yang menjadi tugas berat bagi hermenetis adalah bagaimana cara membaca/menafsirkan dari dalam tanpa harus masuk kedalamnya.

Ada tiga tiga macam otonomi teks, pertama, intensi atau maksud si pengarang. Dua, situasi cultural dan kondisi social pada saat teks itu berwujud. Tiga, untuk apa teks itu dimaksudkan. Dengan tiga otonomi ini maka jelaslah apa yang dimaksud dengan dekontekstualisasi, yaitu bagaimana teks dapat melepaskan diri dari intensi atau maksud sipengarang. Jadi teks membuka diri seluas-luasnya dengan berbagaimacam kemungkinan dengan melepaskan diri dari maksud si penulis sehingga pembaca bebas menginterpretasikannya  dan ini yang dimaksud dengan rekontekstualisasi. Dengan sama-sama membuka diri berarti psikologi dari keduanya melebur dan keduanya saling memberikan kepercayaan sehinnng seseorang dalam membaca sebuah teks dapat berinteraksi atau menghayati teks –proses dialektis- yang dibacanya sehingga dia mendapatkan objektifitas dari interpretasi teks tersebut tanpa ada prasangka-atau kerentanan yang disebutkan pada judul sebelumnya[15].

Kenapa teks menjadi sebuah otonimi ? karena . pertama, teks bersifat bebas (Distansisasi) dimana teks benar-benar terlepas dari proses pengungkapan sipenulis, karena itu, “teks dapat bergerak melampaui batas-batas horizon yang dihayati oleh sangpenulis. Materi yang dibicarakan lebih kaya daripada apa yang di bayangkan atau di abstraksikan oleh sipenulis; dan setiap penafsiran menyingkap karya teks dalam lingkaran makna yang membongkar sampai ke akar-akar psikologis penulisnya”[16]. Dua, teks menjadi dirinya sendiri dan terlepas dari pembicara, yakni tidakada kategoro penulis dan yang hada hanya pembaca pertama. Tiga, fleksibilitas teks yang bisa ditempatkan dalam konteks apapun serta dapat juga menjadi Dekontekstulisasi. Empat, teks independent, monolog dan senantiasa aktus sehingga dia tidak terikat oleh ruang dan waktu, dia bisa berdialog dengan siapapun dan menjadi abadi. Teks independent ini membawa kita kepada dunia teks sehingga ketika teks itu monolog maka kita mengikuti apa yang di gambarkan oleh teks[17].

 
Interpretasi dan Pemahaman

Interpretasi dan pemahaman merupakan sirkulasi yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya, dimana kedua proses tersebbut sama-sama untuk mencapai sebuah keyakinan untuk menjadi aktus, being dan mengada. Ricoeur dalam hal ini mengungkapkan “Engkau harus memahami dulu untuk bisa yakin dan percarcaya dan yakin serta percayalah supaya engkau dapat mengerti dan memahami”.

Ada tiga langkah pemahaman menutur Ricoeur, Pertama langkah simbolik, atau pemahaman dari symbol ke symbol. kedua, pemberian makna oleh symbol serta penggalian  yang sermat atas makna. ketiga, langkah filosofis, yang berfikir berdasr symbol-simbol sebagai titik tolak  (ontologism).

Ketiga langgkah yang disebutkan diatas sebetlnya hamper mirip dengan langkah pemahaman bahasa sendiri. Pertama, Semantik, pemahaman berdasarkan dari bahasa itu sendiri-yang murni-. Kedua pemahaman Reflektif adalah pemahaman akan diri -tau dan sadar akan diri-, dan pemahaman ini hamper menuju atau berbeda tipis dengan pemahaman cara ketiga yaitu pemahaman Eksistensial atau Ontologis merupakan pemahaman pada tingkat being atau keberadaaan akan makna itu sendiri. Risoeur berpendapat bahwa dasar dari pemahaman itu sendiri adalah mengada “Cara Mengada”  (mood of being) atau cara “menjadi”.

Pemahaman menurut Risoeur adalah hanya akan terjadi pada proses dan tingkat pengetahuan, yaitu teori tentang pengetahuan itu sendiri. Karena kita tidak bisa sembarangan ketika teori tentang pengetahuan itu sendiri di hubungkan dengan pengetahuan yang bersifat ontologis, karena pemahaman sendiri terkadang masih terpengaruh oleh unsure-unsur material atau masih terkongkung oleh konsep-konsep atau sketsa-sketsa yang ada. Pemahaman model seperti ini sebenarnya bukan untuk menghindar dari eksistensialis atau realisme, akan tetapi Risoeur menginginkan bahwa sebuah metode Hermeneutik dapat bersaing dengan konsep pengetahuan dan pemahaman ilmu sains dan teknologi. Paul Risoeur sebenarnya mulai jengah dengan metode yang terstruktur, objektif dan kaku seperti yang terdapat dalam pengetahuan ilmu alamiah.sebabpemahaman adalah salah satu proyeksi dari Dassain (proyeksi manusia seutuhnya) dan keterbukaan terhadap being. Pemahaman manusia seutuhnya ialah bahwasannya bagaimana kita dapat melihat seseorang sosok manusia dengan segala kelengkapan aspeknya –totality hostorycal- segala sesuatu yang membuat dirinya menjadi khas dan kita membuat dirinya menjadi sepertti itu dan menjadi.

Ada jenis pemahaman baru yang datang dari seorang filosof yang bernama Karl Jaspers, ia memandaskan bahwa melalui penderitaan seseorang dapat menjadi dirinya mengada dan memahami dan ini sebuah pengalaman pemahaman ontologism yang paling tinggi, dimana kita dapat merasakan  dan memahami hakikat dari manusia itu sendiri melalui pemahaman terhadap yang lain.       

 

DAFTAR PUSTAKA 

Risoeur. Paul, Hery. Musnur (penerjemah): Filsafat Wacana ; Membelah Makna dan Anatomi Bahasa. IRCiSoD. Yogyakarta. 2005.

Sumaryono. E, Hermeneutik; Sebuah Metode Filsafat. Kanisius; Yogyakarta, 1999.

Suseno. Franz Magnis, Diktat Mata kuliah Sejarah Filsafat Barat. STF Dryarkara, Tidak diterbitkan.

Thompson. John B, Filsafat Bahasa dan Hermeneutik. Visi Humanika: Surabaya, cet, I ; 2005.

West. David, An Introduction To Continental Philoshophy. Blackwell Published Ltd. USA,1996.




[1] Magnis Suseno. Franz : Diktat Matakuliah Sejarah Filsafat Barat. 1997 STF Driyarkara.

[2] Risoeur. Paul : Filsafat Wacana ; Membelah makna dan anatomi bahasa. 2005. IRCiSoD. h 187

[3] Sumaryono. E : Hermeneutik; Sebuah Metode Filsafat. 1999. Kanisius. H 103-104

[4] Ibid. h 105

[5] Jhon P. Thompson : Filsafat Bahasa dan Hermeneutik. 2005. Visi Humanika. H 87

[6] West. David : An Introduction To Continental Philoshophy. 1996 Blackwell Published Ltd. H 96

[7] Risoeur. Paul : Filsafat Wacana ; Membelah Makna dan Anatomi Bahasa. 2005. IRCiSoD. h 30

[8] Jhon P. Thompson : Filsafat Bahasa dan Hermeneutik. 2005. Visi Humanika. H, 89

[9] West. David : An Introduction To Continental Philoshophy. 1996 Blackwell Published Ltd. H, 108

[10] Sumaryono. E : Hermeneutik; Sebuah Metode Filsafat. 1999. Kanisius. H 106

[11] Diterjemahkan dari  West. David : An Introduction To Continental Philoshophy. Blackwell Published Ltd. USA 1996. h, 87

[12] Ibid. h 107

[13] Sumaryono. E : Hermeneutik; Sebuah Metode Filsafat. Kanisius; Jogyakarta. 1999. h 107

[14] Ibid. h 108

[15] ibid. h 109-110

[16] Jhon B. Thompson : Filsafat Bahasa dan Hermeneutik. Visi Humanika; Jakarta, 2005. h, 101

[17] ibid. h 101-102

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: